ADVERTISEMENT

PM Sudan Mundur Usai Demonstran Anti-Kudeta Ditindak Keras oleh Militer

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 03 Jan 2022 10:00 WIB
FILE - Sudanese Prime Minister Abdalla Hamdok speaks during a session of the summit to support Sudan, at the Grand Palais Ephemere in Paris on May 17, 2021. On Sunday, Jan. 2, 2021, Hamdok announced his resignation amid political deadlock and widespread pro-democracy protests following a military coup that derailed the country’s fragile transition to democratic rule. (AP Photo/Christophe Ena, Pool, File)
PM Sudan, Abdalla Hamdok (AP Photo/Christophe Ena, Pool, File)

Unjuk rasa besar-besaran menentang kudeta militer terus berlanjut bahkan setelah Hamdok kembali menjabat PM Sudan. Para demonstran anti-kudeta menegaskan ketidakpercayaannya pada Jenderal Burhan dan janji-janjinya mengawal Sudan menuju demokrasi penuh.

Demonstran juga menuding kesepakatan mengembalikan Hamdok pada jabatan PBB sebenarnya dimaksudkan untuk memberikan jubah legitimasi kepada Jenderal Burhan, yang mereka tuduh berupaya melanjutkan rezim otoriter yang dibangun Bashir.

Ribuan demonstran anti-kudeta, pada Minggu (2/1) waktu setempat, nekat menghadapi tembakan gas air mata, pengerahan tentara besar-besaran dan pemadaman saluran telekomunikasi demi menuntut pemerintahan sipil bagi Sudan.

Para demonstran mengecam kudeta dan meneriakkan 'kekuatan untuk rakyat' sembari menuntut militer kembali ke barak. Unjuk rasa juga digelar di dekat kantor kepresidenan Sudan di ibu kota Khartoum.

Komisi Dokter pro-demokrasi dalam pernyataan terpisah melaporkan pasukan keamanan Sudan menewaskan tiga demonstran, yang salah satunya terkena tembakan di bagian dada dan satu lainnya cedera di kepala.


(nvc/idh)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT