Paus Fransiskus Minta Selesaikan Konflik di Tengah Pandemi dengan Dialog

Arief Ikhsanudin - detikNews
Sabtu, 25 Des 2021 21:11 WIB
Pope Francis speaks from the window of his studio overlooking St. Peters Square at The Vatican to a crowd of faithful and pilgrims gathered for the Sunday Angelus noon prayer, Sunday, June 6, 2021. Pope Francis has expressed sorrow over the discovery in Canada of the remains of 215 boarding school students but didnt offer the apology sought by the Canadian prime minister. Francis in public remarks on Sunday called on political and church authorities to work to shed light “on this sad affair” and to foster healing. (AP Photo/Domenico Stinellis)
Foto: AP Photo/Domenico Stinellis
Jakarta -

Paus Fransiskus mendesak ada penyelesaian dialog untuk mengatasi konflik di tengah pandemi virus Corona (COVID-19). Pesan itu disampaikan Paus dalam pesan Urbi et Orbi saat hari Natal.

Dilansir dari AFP, Sabtu (25/12/2021), masa berkumpul di Lapangan Santo Petrus di Vatikan untuk mendengarkan pesan dari Paus. Paus meyesali terjadinya konflik di Suriah, Yaman, dan Irak.

"Di masa pandemi ini, kemampuan kita untuk hubungan sosial sangat diuji. Ada kecenderuangan yang berkembang untuk menarik diri, melakukan semuanya sendiri, berhenti berusaha untuk bertemu orang lain, dan melakukan sesuatu bersama-sama," katanya.

"Di tingkat internasional juga, ada risiko bahwa krisis yang kompleks ini akan mengarah pada mengambil jalan pintas daripada mengambil jalur dialog yang lebih panjang," katanya.

"Namun hanya jalan itu (dialog) yang dapat mengarah pada penyelesaian konflik dan manfaat yang langgeng bagi semuanya," katanya.

Paus menyebut konflik besar terjadi hingga ada ketidakpastian. Adanya konflik seperti tidak pernah berakhir.

"Kita terus menyaksikan sejumlah besar konflik, krisis, dan ketidaksepakatan. Ini sepertinya tidak pernah berakhir; sekarang kita bahkan hampir tidak menyadarinya. Kita telah menjadi begitu terbiasa dengan mereka sehingga tragedi besar sekarang dilewatkan dalam keheningan," katanya, menyebutkan antara lain Suriah, Irak, dan Yaman.

"Di Ukraina, cegah pecahnya konflik baru yang berkepanjangan," katanya melihat ketegangan meningkat antara Rusia dan Barat mengenai nasib negara bekas Soviet yang strategis itu.

(aik/lir)