Kecaman Duterte ke China yang Tembakkan Meriam Air ke Kapal Filipina di LCS

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 22 Nov 2021 16:41 WIB
In this photo provided by the Malacanang Presidential Photographers Division, Philippine President Rodrigo Duterte wears a protective mask as he meets members of the Inter-Agency Task Force on the Emerging Infectious Diseases in Davao province, southern Philippines on Monday Sept. 21, 2020. Duterte says he has extended a state of calamity in the entire Philippines by a year to allow the government to draw emergency funds faster to fight the COVID-19 pandemic and harness the police and military to maintain law and order. (Albert Alcain/Malacanang Presidential Photographers Division via AP)
Presiden Filipina Rodrigo Duterte (Foto: Albert Alcain/Malacanang Presidential Photographers Division via AP)
Jakarta -

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengecam gejolak terbaru di Laut China Selatan (LCS) setelah kapal-kapal penjaga pantai China menembakkan meriam air ke kapal-kapal Filipina.

Seperti diberitakan AFP, Senin (22/11/2021), Duterte membuat pernyataan itu pada KTT ASEAN-China yang diselenggarakan oleh Presiden China Xi Jinping. Dalam KTT itu, Xi berjanji bahwa negaranya "tidak akan pernah mencari hegemoni, dan tentu saja tidak menindas yang kecil".

Ketegangan atas Laut China Selatan yang kaya sumber daya, meningkat pekan lalu ketika kapal-kapal penjaga pantai China menembakkan meriam air ke kapal-kapal Filipina yang mengirimkan pasokan ke marinir Filipina di Second Thomas Shoal, di Kepulauan Spratly yang diperebutkan.

Pemerintah Filipina telah menyatakan kemarahannya atas insiden itu, tetapi Beijing mengatakan kapal-kapal Filipina telah memasuki perairannya tanpa izin.

"Kami membenci kejadian baru-baru ini di Ayungin Shoal dan memandang dengan keprihatinan serius perkembangan serupa lainnya," kata Duterte pada KTT ASEAN-China.

"Ini tidak baik untuk hubungan antara negara-negara kita dan kemitraan kita," imbuhnya.

Pernyataan Duterte ini terbilang sangat keras untuk seorang pemimpin yang telah memupuk hubungan yang lebih hangat dengan Beijing, sejak mengambil alih kekuasaan pada 2016 dengan harapan mendapatkan investasi dan perdagangan yang dijanjikan.