16 Jet Tempur China Melintas, Taiwan Aktifkan Sistem Rudal

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 07 Nov 2021 15:49 WIB
(FILES) In this file photo taken on April 13, 2018, four US-made F-16 fighter jets fly in formation during a drill near the Suao navy harbour in Yilan, eastern Taiwan.
Diplomacy has never been easy for Taiwan and is becoming ever more complex as it is caught between the United States under an unpredictable leader and an increasingly assertive China, which claims the self-ruling island as its own.
 / AFP PHOTO / SAM YEH / TO GO WITH AFP STORY TAIWAN-CHINA-US-DIPLOMACY-POLITICS,FOCUS BY MICHELLE YUN
Ilustrasi (Foto: AFP PHOTO/SAM YEH)
Jakarta -

Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China mengerahkan 16 pesawat tempur ke zona pertahanan udara Taiwan. Ini adalah jumlah tertinggi sejak kehadiran pesawat tempur harian ke Taiwan sejak awal Oktober lalu.

Seperti dilansir South China Morning Post, Minggu (7/11/2021) Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan 16 pesawat PLA (10 jet tempur J-16 dan enam pesawat tempur J-10) memasuki zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) barat daya Taiwan. Pihaknya pun merespon dengan mengaktifkan sistem pertahanan rudal.

"Angkatan udara Taiwan mengeluarkan peringatan radio dan mengaktifkan sistem pertahanan rudal untuk memantau aktivitas tersebut," kata kementerian itu.

Kementerian menyebut sejak 1 hingga 5 Oktober lalu, PLA melakukan 150 serangan mendadak ke ADIZ. Namun tidak ada yang dilakukan selama 10 hari setelahnya, kecuali tiga serangan mendadak pada 10 Oktober, tepat di hari Nasional Taiwan.

Dari 16 Oktober hingga 5 November, China melanjutkan serangan mendadak dengan pesawat tempurnya setiap hari, kecuali pada tanggal 23 Oktober, 30 Oktober, dan 3 November. Selama waktu itu, setiap harinya ada 8 pesawat PLA yang terlihat di zona ADIZ.

Sebanyak 16 pesawat yang memasuki wilayah Taiwan pada Sabtu (6/11) lalu terjadi sehari setelah delegasi resmi yang dikirim oleh Parlemen Eropa mengakhiri kunjungan tiga hari ke Taiwan. Kunjungan itu dilakukan untuk mempelajari pengalaman Taiwan dalam memerangi disinformasi.

Pada Jumat (5/11) anggota parlemen Eropa yang berkunjung mengatakan bahwa perjalanan ke Taiwan bukanlah provokasi karena keputusan dibuat berdasarkan kepentingan warga negara Eropa.

Taiwan telah menjalankan pemerintahan sendiri sejak 1949, namun China menganggap pulau itu sebagai bagian dari wilayahnya dan menentang segala bentuk kontak resmi antara Taiwan dan negara lainnya.

(izt/dhn)