ISIS Klaim Dalangi Serangan Bom di Restoran Uganda

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 26 Okt 2021 11:07 WIB
A member of the US-backed Syrian Democratic Forces removes an Islamic State group flag in the town of Tabqa, near Syrias Raqa, on April 30, 2017 (AFP Photo/DELIL SOULEIMAN)
Ilustrasi -- Bendera ISIS (dok. AFP Photo/DELIL SOULEIMAN)
Kampala -

Kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom mematikan di sebuah restoran di Uganda. Kepolisian Uganda sebelumnya menyebut ledakan bom yang menewaskan seorang wanita itu sebagai 'aksi terorisme domestik'.

Seperti dilansir AFP, Selasa (26/10/2021), penyidik setempat menyebut seorang wanita berusia 20 tahun tewas dan tiga orang lainnya luka-luka akibat ledakan yang mengguncang sebuah restoran pinggir jalan di ibu kota Kampala pada Sabtu (23/10) pagi waktu setempat.

Kepolisian setempat menyatakan bahwa bom ditinggalkan di bawah meja yang mengindikasikan kinerja kelompok lokal yang tidak terlalu canggih, dan mengesampingkan dugaan keterkaitan dengan jaringan asing.

Namun dalam pesan yang dikirimkan via saluran komunikasinya, kelompok ISIS Provinsi Afrika Tengah mengklaim mereka yang mendalangi serangan bom itu. Kelompok itu juga mengklaim telah menewaskan dua orang dan melukai lima orang lainnya.

"Detasemen keamanan dari tentara Kekhalifahan mampu meledakkan sebuah alat peledak di dalam sebuah kedai di mana elemen dan mata-mata tentara Salib Uganda berkumpul," demikian pernyataan ISIS seperti dikutip kelompok pemantau militan, SITE Intelligence Group.

Pada 8 Oktober lalu, ISIS mengklaim serangan pertamanya di Uganda, yang menyebut unit yang sama dari operasional Afrika Tengah mengebom sebuah pos polisi di Kampala yang memicu beberapa korban luka.

Tidak ada ledakan maupun korban luka yang dilaporkan oleh otoritas setempat maupun media lokal pada saat itu, meskipun kepolisian kemudian mengonfirmasi adanya insiden ringan yang terjadi tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Namun beberapa hari terakhir, baik Inggris dan Prancis memperbarui imbauan perjalanan mereka ke Uganda. Kedua negara itu sama-sama menyebut teroris 'sangat mungkin untuk mencoba dan melancarkan serangan di Uganda' dan mengimbau kewaspadaan warganya di area-area ramai orang.

(nvc/ita)