43 Negara Minta China Hormati Hak-hak Uighur di Xinjiang

Tim Detikcom - detikNews
Jumat, 22 Okt 2021 10:30 WIB
Sebuah lembaga think tank Australia melaporkan bahwa otoritas China telah menghancurkan ribuan masjid di Xinjiang dalam beberapa tahun ini.
Wilayah Xinjiang, China mayoritas penduduknya warga etnis Uighur (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Sebanyak empat puluh tiga negara di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meminta China untuk "memastikan penghormatan penuh terhadap aturan hukum" berkaitan dengan komunitas Muslim Uighur di Xinjiang.

"Kami meminta China untuk memberikan akses segera, bermakna dan tak terbatas ke Xinjiang bagi pengamat independen, termasuk Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia dan kantornya," kata negara-negara tersebut dalam pernyataan bersama, yang dibacakan di PBB oleh Prancis, seperti diberitakan kantor berita AFP, Jumat (22/10/2021).

"Kami sangat prihatin dengan situasi di Daerah Otonomi Uighur Xinjiang," kata pernyataan itu, mengutip laporan "kredibel" yang "menunjukkan adanya jaringan besar kamp 'pendidikan ulang politik' di mana lebih dari satu juta orang dilaporkan telah ditahan secara sewenang-wenang."

Deklarasi tersebut ditandatangani oleh Amerika Serikat, negara-negara Eropa, negara-negara Asia dan lainnya. Dalam pernyataan bersama itu disebut tentang penyiksaan, perlakuan kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat, sterilisasi paksa, kekerasan seksual dan berbasis gender serta pemisahan paksa anak-anak, yang dikatakan "secara tidak proporsional terus menargetkan Uighur dan anggota minoritas lainnya."

Duta Besar China untuk PBB, Zhang Jun mengecam apa yang disebutnya sebagai "kebohongan" dan "komplotan untuk menyakiti China." Dia dengan cepat menolak "tuduhan yang tidak berdasar tersebut."

"Xinjiang menikmati pembangunan dan orang-orang bebas setiap harinya dan bangga dengan kemajuan yang dicapai," katanya, didukung oleh Kuba, yang mengkritik campur tangan dalam urusan dalam negeri China.

Pada 2019 dan 2020, deklarasi serupa diumumkan dengan cara yang sama oleh Inggris dan Jerman. Setelah mengumpulkan 23 pendukung dua tahun lalu, deklarasi tersebut mendapat dukungan dari 39 negara tahun lalu. Dan tahun ini, selain 39 negara tersebut, Turki, Eswatini, Portugal dan Republik Ceko juga ikut mendukung deklarasi tersebut.

Lihat juga Video: Angkat Isu Uighur, China Ancam Boikot H&M Hingga Nike

[Gambas:Video 20detik]