Bapak Senjata Nuklir Pakistan A.Q Khan Meninggal di Usia 85 Tahun

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 10 Okt 2021 13:50 WIB
(FILES) In this file photo taken on February 6, 2009 Pakistani nuclear scientist Abdul Qadeer Khan gesturing after a court verdict in Islamabad. - Abdul Qadeer Khan, revered as the father of Pakistans nuclear bomb, has died at 85, state-run broadcaster PTV reported on October 10, 2021. (Photo by Aamir QURESHI / AFP FILES / AFP)
Bapak Nuklir Pakistan A.Q Khan Meninggal di Usia 85 Tahun (Foto: AFP/AAMIR QURESHI)
Jakarta -

Abdul Qadeer Khan, yang juga disebut sebagai "Bapak Program Senjata Nuklir Pakistan", tutup usia. Ia meninggal pasca dirawat di rumah sakit lantaran penyakit paru-paru.

Seperti dilansir AFP, Minggu (10/10/2021) ilmuwan atom tersebut mendapatkan pujian sebagai pahlawan nasional lantaran berhasil mengubah Pakistan menjadi kekuatan nuklir Islam pertama di dunia. Sebaliknya, negara-negara Barat menganggapnya sebagai pemberontak berbahaya yang bertanggung jawab atas penyelundupan teknologi ke negara-nengara lainnya.

"Dia meninggal setelah dipindahkan ke Rumah Sakit KRL di Islamabad dengan masalah paru-paru," demikian laporan kantor berita milik pemerintah PTV.

Pada Agustus lalu, Khan, yang berusia 85 tahun, juga sempat dirawat di rumah sakit yang sama karena Covid-19. Setelah diizinkan pulang beberapa minggu yang lalu, ia dipindahkan kembali setelah kondisinya memburuk.

Ucapan belasungkawa disampaikan Presiden Pakistan, Arif Alvi dalam sebuah tweet. Dia "sangat sedih mengetahui tentang meninggalnya Dr. Abdul Qadeer Khan", yang dia kenal secara pribadi sejak tahun 1982.

"Dia membantu kami mengembangkan pencegahan nuklir yang menyelamatkan bangsa. Negara ini sangat bersyukur dan tidak akan pernah melupakan jasanya." tambah Arif Alvi.

Khan dipuji lantaran mampu membawa Pakistan menyaingi India di bidang atom dan membuat pertahanannya "tak tertembus".

Meski begitu, Khan mendapat sorotan internasional dan dituduh berbagi teknologi nuklir secara ilegal dengan Iran, Libya, dan Korea Utara. Akibatnya, Khan ditempatkan di bawah tahanan rumah di ibu kota Islamabad pada tahun 2004 setelah ia mengaku menjalankan jaringan proliferasi ke tiga negara tersebut.

Pada tahun 2006 Khan terkena kanker prostat, tetapi sembuh setelah operasi.

Pada Februari 2009, pengadilan mengakhiri masa tahanan rumahnya namun pergerakan Khan masih dijaga ketat. Khan didampingi oleh pihak berwenang setiap kali dia meninggalkan rumahnya di sektor kelas atas di Islamabad.

(izt/dhn)