Cerita Warga Afghanistan Takut pada Taliban tapi Juga Merasa Aman

Tim Detikcom - detikNews
Jumat, 24 Sep 2021 10:47 WIB
Afghan drivers and passengers stuck in a traffic jam look at Taliban fighters riding in the back of a pickup truck in Kabul, Afghanistan, Monday, Sept. 20, 2021. (AP Photo/Felipe Dana)
Ilustrasi -- Petempur Taliban di Afghanistan (dok. AP Photo/Felipe Dana)

Seorang pemilik toko lainnya menyebut hukuman berat yang diberlakukan Taliban jelas merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM), namun dia juga mengaku senang karena bisa tetap membuka tokonya saat malam hari.

Sebelumnya, salah satu pendiri kelompok Taliban, Mullah Nooruddin Turabi, dalam wawancara dengan Associated Press memastikan bahwa hukuman berat sesuai interpretasi kelompok ini soal hukum Islam, seperti eksekusi mati dan hukuman potong tangan, akan kembali diberlakukan di Afghanistan.

"Memotong tangan sangat diperlukan untuk keamanan," cetus Turabi.

Ditegaskan Turabi bahwa hukuman semacam itu memiliki efek jera. Namun dia juga menyatakan bahwa kabinet pemerintahan Taliban masih mempelajari apakah hukuman semacam itu akan dilakukan di depan umum seperti di masa lalu.

Turabi yang kini berusia 60-an tahun, menjabat sebagai Menteri Kehakiman dan memimpin departemen yang disebut Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan, atau yang secara efektif merupakan 'polisi syariah' atau 'polisi moral' saat Taliban berkuasa sebelumnya.

Dalam wawancara dengan Associated Press, Turabi menepis kritikan terhadap kepemimpinan Taliban sebelumnya pada akhir tahun 1990-an silam. Dia menegaskan bahwa Taliban sebelumnya berhasil membawa stabilitas di Afghanistan.

"Kami memiliki keamanan sepenuhnya di setiap bagian negara ini," ucap Turabi, merujuk pada kepemimpinan Taliban di masa lalu.


(nvc/ita)