AS Akui Serangan Drone di Kabul Tewaskan 10 Warga Sipil, Bukan ISIS!

Rita Uli Hutapea - detikNews
Sabtu, 18 Sep 2021 10:46 WIB
FILE PHOTO: An undated U.S. Air Force handout photo of a RQ-4 Global Hawk unmanned (drone) aircraft.  U.S. Air Force/Bobbi Zapka/Handout/Files via REUTERS.  THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY.
ilustrasi drone militer AS (Foto: U.S. Air Force/Bobbi Zapka/Handout/Files via REUTERS)
Jakarta -

Seorang jenderal tinggi Amerika Serikat mengakui bahwa negara itu telah membuat "kesalahan" ketika melancarkan serangan pesawat tak berawak (drone) terhadap tersangka ISIS di Kabul, ibu kota Afghanistan. Bukannya menewaskan para militan, serangan drone AS itu menewaskan 10 warga sipil, termasuk anak-anak di hari-hari terakhir penarikan AS dari Afghanistan bulan lalu.

Seperti dilansir dari kantor berita AFP, Sabtu (18/9/2021), Komandan Komando Pusat AS Jenderal Kenneth McKenzie mengatakan, serangan itu dimaksudkan untuk menargetkan operasi ISIS yang dicurigai oleh intelijen AS memiliki "kepastian yang masuk akal" yang bertujuan untuk menyerang bandara Kabul.

"Serangan itu adalah kesalahan yang tragis," kata McKenzie kepada wartawan setelah penyelidikan.

McKenzie mengatakan pemerintah sedang mempelajari bagaimana pembayaran ganti rugi dapat dilakukan kepada keluarga mereka yang terbunuh.

Jenderal tersebut mengatakan bahwa pada 29 Agustus lalu, pasukan AS telah melacak sebuah mobil Toyota putih selama delapan jam, setelah melihatnya di sebuah lokasi di Kabul, yang diidentifikasi oleh intelijen sebagai tempat di mana para agen ISIS diyakini sedang mempersiapkan serangan terhadap bandara Kabul.

Dikatakannya, laporan intelijen telah membuat pasukan AS mengawasi Toyota Corolla putih yang diduga digunakan kelompok ISIS itu.

"Kami memilih mobil ini berdasarkan pergerakannya di area target yang kami ketahui," kata McKenzie.

"Jelas intelijen kami salah soal Toyota putih ini," katanya.

Simak Video: Keluarga Korban Serangan Drone AS di Afghanistan Menuntut

[Gambas:Video 20detik]