Fakta Soal Guinea yang Dikudeta Militer Gegara Jabatan Presiden 3 Periode

Tim Detikcom - detikNews
Senin, 06 Sep 2021 10:25 WIB

Terpilihnya Conde untuk masa jabatan ketiga pada Oktober lalu menyebabkan ketegangan serta penangkapan puluhan oposisi, tetapi ia tetap dinyatakan sebagai pemenang pada 7 November, meskipun ada gugatan terhadap hasil dari saingan utama Cellou Dalein Diallo dan tiga kandidat lainnya yang mengklaim adanya kecurangan-kecurangan.

- Sumber daya alam yang kurang dieksploitasi -
Guinea, yang berbatasan dengan Sierra Leone, Liberia, Pantai Gading, Mali, Senegal dan Guinea-Bissau, adalah 80 persen Muslim, tetapi terdiri dari berbagai kelompok etnis, termasuk etnis Fulani dan Malinkes yang paling besar. Guinea sedikit lebih besar dari Inggris dan memiliki banyak kekayaan sumber daya alam.

Negara ini adalah salah satu produsen utama bauksit dunia, mineral utama yang digunakan dalam produksi aluminium. Selain itu Guinea juga produsen besi, emas, berlian dan minyak.

Pertanian adalah sumber utama pekerjaan di negara itu.

PDB tumbuh 5,6 persen pada 2019 dan 5,2 persen pada 2020, menurut Bank Pembangunan Afrika, yang memperkirakan kenaikan mencapai lima persen tahun ini berdasarkan kinerja yang kuat di pertambangan dan juga mulai beroperasinya pembangkit listrik tenaga air Souapiti di timur laut ibu kota Conakry.

Namun, korupsi tetap menjadi masalah utama. Transparency International menempatkan Guinea di peringkat 137 dari 180 pada indeksnya tahun lalu dan kesenjangan sosial sangat mencolok dengan sekitar setengah dari 13 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, menurut lembaga statistik nasional negara itu.

Banyak orang juga tidak memiliki akses listrik dan air mengalir, menurut Bank Dunia.

- Sunat perempuan, Ebola -
Guinea tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah sunat perempuan tertinggi di dunia, menurut UNICEF, sekitar 97 persen anak perempuan dan kaum wanita menjalani sunat.

Negara ini juga dilanda wabah Ebola terburuk hingga saat ini, yang dimulai di negara itu pada Desember 2013 dan berlangsung selama tiga tahun. Wabah itu menyebabkan 11.000 orang Afrika barat tewas, sebanyak 2.500 orang di antaranya di Guinea.


(ita/ita)