Kisah Pilu Warga Afghanistan Tak Ikut Pesawat Evakuasi Terakhir

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 01 Sep 2021 17:15 WIB
Warga terus memadati Bandara Kabul, Afghanistan. Mereka berniat meninggalkan negaranya.
Ilustrasi -- Momen warga Afghanistan berkumpul di luar bandara Kabul berharap bisa naik penerbangan evakuasi (dok. AP Photo)
Kabul -

Saat tentara Amerika Serikat (AS) meninggalkan Afghanistan untuk terakhir kalinya, Hussain yang memegang paspor AS karena pernah bekerja untuk militer AS berjuang membawa enam putrinya melewati pos pemeriksaan Taliban menuju bandara Kabul selama beberapa hari berturut-turut.

Dia berharap bisa naik penerbangan evakuasi dengan selamat bersama keenam putrinya. Hussain menelepon dan mengirim email ke Kedutaan Besar AS selama berhari-hari tanpa ada balasan. Demikian seperti dilansir Reuters, Rabu (1/9/2021).

Kemudian seorang tentara AS menghubunginya hanya untuk mengatakan bahwa satu-satunya kesempatan untuk terbang adalah sendirian, tanpa putri-putrinya yang bukan warga negara AS. Istri Hussain meninggal dunia pada Juli lalu akibat COVID-19, dan meninggalkan anak-anaknya berarti menelantarkan mereka.

Pada Senin (30/8) malam waktu setempat, Hussain dan keluarganya berdiri di tengah kerumunan di luar bandara Kabul, mendengarkan deru pesawat militer C-17 milik AS lepas landas, mengakhiri intervensi militer panjang selama dua dekade di Afghanistan.

Hussain kini termasuk di antara warga Afghanistan yang tak terhitung jumlahnya, yang mempertimbangkan untuk menempuh perjalanan darat yang berbahaya.

"Saya dengar dari berita dan kerabat bahwa ribuan orang menunggu di perbatasan Afghanistan dengan Pakistan dan berupaya masuk ke wilayah Pakistan," tutur Hussain kepada Reuters, pada Selasa (31/8) waktu setempat, melalui seorang penerjemah.

"Saya tidak tahu, haruskah saya pergi ke Tajikistan," ucapnya bertanya-tanya, khawatir soal bagaimana dirinya akan mengurus anak-anaknya di sepanjang perjalanan jika dia memutuskan untuk pergi.

Dengan ditariknya seluruh tentara AS, berakhirnya penerbangan evakuasi AS dan penerbangan komersial menghindari bandara Kabul yang tidak memiliki Air Traffic Control yang beroperasi, upaya menyelamatkan ribuan warga Afghanistan kini fokus pada mengatur jalur aman hingga ke perbatasan negara itu.