32 Orang Terjebak di Perbatasan Polandia-Belarus Usai Kabur dari Afghanistan

Isal Mawardi - detikNews
Jumat, 20 Agu 2021 22:39 WIB
Perang hingga bencana alam kerap jadi faktor sejumlah warga tinggalkan negaranya untuk cari suaka. Sejumlah negara maju ini kerap jadi tujuan para pencari suaka
Ilustrasi, warga Afghanistan yang mencari suaka (Foto: Getty Images)
Warsawa -

Kelompok hak-hak pengungsi Polandia bernama Fundacja Ocalenie mengatakan ada 32 orang warga Afghanistan terjebak selama 12 hari di antara Polandia dan Belarusia. Mereka diketahui kabur dari Afghanistan yang kini dikuasai Taliban.

Dilansir dari Associated Press, kelompok Fundacja Ocalenie meminta pihak berwenang untuk mengizinkan 32 warga Afghanistan itu mengajukan status sebagai pengungsi. Namun, otoritas Polandia menolak membiarkan 32 warga Afghanistan itu masuk, sementara pihak Belarusia tidak mengizinkan kembali.

"Sesuai dengan hukum yang berlaku di Polandia, masing-masing orang ini harus diizinkan untuk mengajukan permohonan perlindungan," ujar Presiden kelompok Fundacja Ocalenie Piotr Bystrianin, Jumat (20/8/2021).

Anggota kelompok Fundacja Ocalenie tiba di tempat para migran terjebak, dekat desa Usnarz Górny, pada Rabu (18/8) untuk membawakan sejumlah bantuan seperti makanan, tenda, kantong tidur, dan power bank. Mulanya, anggota kelompok Fundacja Ocalenie tidak diberi akses tetapi kemudian diperbolehkan memberikan bantuan pada hari Kamis (19/8).

Seorang anggota kelompok Fundacja Ocalenie, Tahmina Rajabova, melaporkan para migran berjumlah 32 orang dari Afghanistan yang semuanya ingin mengajukan status pengungsi di Polandia. Salah satunya yakni seorang gadis berusia 15 tahun dan beberapa orang yang sakit.

Beberapa hari sebelumnya, sekitar 12 orang dari Irak -wanita dan anak kecil- terdampar bersama migran dari Afghanistan, tetapi otoritas Belarusia mengizinkan mereka kembali ke Belarus.

"Situasi yang tidak manusiawi dan memalukan bahwa Polandia, bersama dengan Belarusia, mengutuk orang-orang ini ke penjara di perbatasan, dalam kondisi yang menyinggung martabat manusia dan mengancam jiwa," kata seorang anggota parlemen Polandia sayap kiri, Maciej Konieczny.

Polandia dan negara-negara seperti Lithuania, Latvia dan Estonia menuduh Presiden Belarusia Alexander Lukashenko mengirim migran melintasi batas negara tanpa persetujuan. Tindakan Lukashenko itu disebut memicu 'perang hibrida'. Sebagian besar migran baru-baru ini keluar dari Belarusia diyakini berasal dari Irak dan Afghanistan.

Polandia sendiri telah mengerahkan ratusan tentara ke perbatasan dan mendirikan kawat berduri. Perdana Menteri Polandia Mateusz Morawiecki mengatakan pada bahwa dia bersimpati dengan para migran, tetapi bersikeras bahwa mereka adalah 'kiriman Belarusia'.

(isa/haf)