Adik Kim Jong-Un Sebut Korsel Berkhianat Gelar Latihan Militer dengan AS

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 10 Agu 2021 13:43 WIB
FILE - In this March 2, 2019, file photo, Kim Yo Jong, sister of North Koreas leader Kim Jong Un attends a wreath-laying ceremony at Ho Chi Minh Mausoleum in Hanoi, Vietnam. The powerful sister of North Korean leader Kim ripped South Korea for proceeding with military exercises with the United States she claimed are an invasion rehearsal and warned that the North will speed up its efforts to strengthen its pre-emptive strike capabilities. (Jorge Silva/Pool Photo via AP, File)
Kim Yo-Jong (Jorge Silva/Pool Photo via AP, File)
Pyongyang -

Kim Yo-Jong, adik pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong-Un, menuduh otoritas Korea Selatan (Korsel) berkhianat karena tetap menggelar latihan militer gabungan dengan Amerika Serikat (AS). Kim Yo-Jong juga memperingatkan bahwa Korsel dan AS akan menghadapi ancaman keamanan lebih besar.

Seperti dilansir AFP, Selasa (10/8/2021), peringatan dari Kim Yo-Jong ini disampaikan setelah kedua Korea pada bulan lalu menyepakati pemulihan komunikasi lintas perbatasan yang terputus sejak setahun lalu. Diumumkan juga bahwa pemimpin kedua negara sepakat berupaya meningkatkan hubungan.

Namun Kim Yo-Jong yang menjadi penasihat penting untuk kakaknya, Kim Jong-Un, mengecam Korsel karena menggelar latihan militer gabungan dengan AS, yang disebutnya 'berbahaya', pada bulan ini. Korut sejak lama menganggap latihan gabungan semacam itu sebagai latihan untuk menginvasi wilayahnya.

Dalam pernyataan terbaru yang dirilis kantor berita Korut, Korean Central News Agency (KCNA), Kim Yo-Jong menyampaikan 'penyesalan mendalam atas perilaku berkhianat dari otoritas Korea Selatan' dengan tetap menggelar latihan militer gabungan dengan AS usai memulihkan komunikasi lintas perbatasan.

Diketahui bahwa militer Korsel dan AS memulai latihan awal pada Selasa (10/8) waktu setempat menjelang latihan gabungan tahunan yang digelar pekan depan.

Kim Yo-Jong menyebut latihan gabungan itu merupakan 'tindakan yang tidak diinginkan, yang menghancurkan diri sendiri' yang mengancam rakyat Korut dan meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea.

"Amerika Serikat dan Korea Selatan akan menghadapi ancaman keamanan yang lebih serius dengan mengabaikan peringatan berulang kali dari kami dengan melanjutkan latihan perang yang berbahaya," sebut Kim Yo-Jong.

Korsel dan AS merupakan sekutu perjanjian, dengan AS menempatkan sekitar 28.500 tentara di wilayah Korsel untuk membela negara itu dari tetangganya yang memiliki kemampuan nuklir. Kedua negara sebelumnya mengurangi latihan gabungan tahunan semacam ini demi memfasilitasi perundingan nuklir dengan Korut.

(nvc/tor)