Guatemala Batalkan Pemesanan Vaksin Sputnik Rusia, Ini Alasannya

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 28 Jul 2021 12:54 WIB
(FILES) In this file photo taken on March 10, 2021 workers unload a container from a plane of Aeromexico airline carrying the second shipment of the Sputnik V vaccines against COVID-19 of Russian laboratory Gamalei, upon their arrival at the Benito Juarez International Airport in Mexico City. - Mexico seized on March 18, 2021 a shipment of alleged Sputnik V vaccines against covid-19 from a private plane with Honduras as destination, even though Russian authorities assure the doses would be fake. (Photo by PEDRO PARDO / AFP)
ilustrasi (Foto: AFP/PEDRO PARDO)
Jakarta -

Presiden Guatemala Alejandro Giammattei mengumumkan bahwa negaranya telah membatalkan pemesanan batch kedua sebanyak delapan juta dosis vaksin COVID-19 buatan Rusia. Pembatalan ini dilakukan karena keterlambatan pengiriman pesanan sebelumnya.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Rabu (28/7/2021), Giammattei mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintahannya telah merundingkan ulang kontraknya dengan Moskow dan tidak akan lagi membeli tambahan delapan juta dosis vaksin Sputnik V, sebagaimana tercantum dalam perjanjian awal. Selanjutnya, Guatemala akan bernegosiasi dengan perusahaan farmasi lain.

Giammattei mengatakan bahwa pembelian yang dibatalkan tersebut sesuai dengan "50 persen yang rencananya akan dihabiskan untuk vaksin Sputnik."

"Dengan komitmen itu (dengan Rusia) yang telah dirilis tahun ini, kami akan menginvestasikan jumlah dalam negosiasi yang sudah diadakan tersebut dengan perusahaan lain," imbuhnya.

Guatemala membayar senilai US$ 79,6 juta kepada Dana Investasi Langsung Rusia untuk delapan juta dosis Sputnik V. Namun, sejauh ini baru menerima 550.000 vaksin.

Penundaan itu memicu kritik terhadap pemerintah dan seruan untuk penyelidikan, sementara ombudsman Jordan Rodas dan puluhan organisasi sosial, pendidikan dan kemanusiaan menuntut Giammattei mengundurkan diri.

Akibatnya, Guatemala menegosiasikan kembali kontrak. Giammattei mengatakan bahwa menurut kontrak baru, delapan juta dosis yang telah dibayarkan akan tiba pada akhir tahun.