Badai Pasir di China 'Telan' Kota, Warga Tak Bisa Lihat Cahaya Matahari

Haris Fadhil - detikNews
Selasa, 27 Jul 2021 21:49 WIB
Cars are driven along a street amid a sandstorm during the morning rush hour in Beijing, Monday, March 15, 2021. The sandstorm brought a tinted haze to Beijings skies and sent air quality indices soaring on Monday. (AP Photo/Mark Schiefelbein)
Ilustrasi badai pasir (Foto: AP Photo/Mark Schiefelbein)
Beijing -

Dinding pasir setinggi lebih dari 100 meter 'menelan' sebuah kota di pinggiran gurun Gobi di barat laut China. Warga mengaku tak bisa melihat cahaya matahari akibat badai pasir di China tersebut.

Dilansir dari AFP, Selasa (27/7/2021), Dunhuang, yang merupakan tempat wisata dengan sejarah penuh warna sebagai pos terdepan Jalur Sutra menghilang sejenak 'ditelan' awan debu saat badai pasir di China melanda pada hari Minggu.

Seorang warga, Zhang, mengatakan kepada media lokal Jimu News kalau badai pasir itu datang tiba-tiba dan menyapu kota dalam lima atau enam menit.

"Saya tidak bisa melihat matahari," katanya.

Dia juga mengatakan kota di Provinsi Gansu tidak mengalami badai pasir seperti itu dalam beberapa tahun.

"Awalnya saya diselimuti debu kuning badai pasir, lalu berubah menjadi merah dan akhirnya hitam," ujarnya.

Dunhuang adalah rumah bagi beberapa tempat wisata utama termasuk Gua Mogao, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO dengan ukiran Buddha kuno dan bentang alam gurun yang mencolok.

Menurut kantor berita pemerintah China News Service, badai pasir biasa terjadi di wilayah itu setiap musim semi. Badai pasir di China jarang terjadi di musim panas seperti saat ini.

(haf/isa)