Round-Up

Dahsyat Kematian Corona di India Diduga Lebih Tinggi 10 Kali Lipat

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 21 Jul 2021 04:59 WIB
India jadi negara ketiga dengan kasus COVID-19 terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat dan Brasil. Beberapa penanganan jenazah pun dilakukan dengan cara kremasi.
Ilustrasi proses kremasi jenazah Covid-19 di India (Foto: Getty Images/Yawar Nazir)
New Delhi -

Jumlah kematian akibat Corona di India diduga jauh lebih tinggi dari pada data resmi pemerintah. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, yakni diduga 10 kali lipat jumlah kematian data resmi.

Hal ini terbongkar dari hasil studi mantan kepala penasihat ekonomi pemerintah India, Arvind Subramanian, bersama dengan dua peneliti pada Pusat Pengembangan Global yang berbasis di Amerika Serikat (AS) dan Universitas Harvard seperti dilansir dari AFP dan Associated Press. Studi ini menganalisis data kasus kematian dari awal pandemi hingga Juni ini.

Hasil Studi

Otoritas India saat ini melaporkan nyaris 415.000 kematian akibat virus Corona di wilayahnya. Namun hasil studi menyebut jumlah kematian mencapai sekitar 3,4 juta orang hingga 4,7 juta kasus.

Hasil studi itu menyebutkan bahwa penghitungan pemerintah India bisa saja melewatkan kematian yang terjadi di rumah-rumah sakit yang kewalahan atau saat layanan kesehatan tertunda atau terganggu, khususnya saat lonjakan kasus memuncak pada awal tahun ini.

"Kematian yang sebenarnya kemungkinan mencapai jutaan, bukan ratusan ribu, yang menjadikan ini bisa disebut sebagai tragedi kemanusiaan terburuk di India sejak pemisahan dan kemerdekaan," demikian bunyi laporan studi terbaru tersebut.

A COVID-19 victim is cremated in Vasai, outskirts of Mumbai, India, Thursday, April 15, 2021. India reported more than 200,000 new coronavirus cases Thursday, skyrocketing past 14 million overall as an intensifying outbreak puts a grim weight on its fragile health care system.Situasi pandemi di India (Foto: AP Photo)

Data Resmi Diragukan Pakar

Sebagian besar pakar telah sejak lama meyakini angka kematian resmi di India tergolong terlalu kecil dan undercount. Mereka lebih menyalahkan sistem layanan kesehatan yang tertekan akibat gelombang kasus Corona, daripada kekeliruan informasi yang disengaja.

Namun pemerintah India mengabaikan kekhawatiran para pakar itu dengan menyebutnya berlebihan dan menyesatkan.

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah negara bagian di India telah merevisi data resmi mereka, termasuk untuk jumlah kematian akibat Corona. Mereka menyebut adanya data 'backlog' atau data yang tertahan dan belum dihitung.

Studi ini didasarkan pada perkiraan 'kelebihan kematian', yakni tambahan orang yang meninggal dibandingkan angka sebelum krisis. Para peneliti dalam studi ini melakukan penghitungan sebagian dengan menganalisis pendaftaran kematian di beberapa negara bagian dan melakukan studi ekonomi nasional secara berulang.

"Namun semua perkiraan menunjukkan bahwa jumlah kematian dari pandemi kemungkinan akan lebih besar dari penghitungan resmi," sebut para peneliti.

Simak di halaman berikutnya

Simak Video: WNI di India Sesalkan Indonesia Tak Belajar dari Tsunami Corona India

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2