Round-Up

Varian Delta Juga Menggila di Negeri Adidaya

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 15 Jul 2021 21:05 WIB
FILE - In this Saturday, Sept. 19, 2020, file photo, an American flag flies at half-staff over the White House in Washington. A woman suspected of sending an envelope containing the poison ricin, which was addressed to White House, has been arrested at the New York-Canada border. (AP Photo/Patrick Semansky, File)
Foto: Ilustrasi Gedung Putih (AP Photo/Patrick Semansky, File)
Washington -

Lonjakan kasus Corona (COVID-19) juga terjadi di Negeri Adidaya, Amerika Serikat (AS). Dua faktor yang menyebabkan meningkat tajamnya kasus positif adalah kelompok masyarakat yang tak divaksin dan penyebaran varian Delta.

Dilansir CNN, Kamis (15/7/2021), tingkat kasus baru pekan kemarin setidaknya 10 persen lebih tinggi dari tingkat kasus baru pekan sebelumnya di 46 negara bagian, menurut data dari Universitas Johns Hopkins. Bahkan kasus baru pekan lalu setidaknya 50 persen lebih tinggi dari kasus baru pekan sebelumnya di 31 negara bagian AS.

Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), Rochelle Walensky menerangkan lebih dari 99 persen kematian akibat infeksi virus Corona pada Juni adalah karena orang-orang yang tidak divaksin.

CDC mencatat sekitar 57% kasus baru di AS adalah varian Delta. Dan sebagian besar kasus baru terjadi pada usia anak karena tak divaksin.

Negara bagian Missouri dan Mississippi, yang memiliki tingkat vaksinasi rendah, melaporkan tren mengkhawatirkan di mana pasien COVID-19 anak-anak dirawat di rumah sakit. Petugas Kesehatan Mississippi Thomas Dobbs, dalam cuitannya di Twitter mengatakan bahwa tujuh anak dengan COVID-19 berada di unit perawatan intensif negara bagian itu, dan dua anak menggunakan ventilator.

Meskipun Dobbs tidak mengatakan apakah anak-anak itu terinfeksi varian Delta, dia mengatakan hampir semua kasus di Mississippi adalah varian Delta dan sebagian besar pasien dirawat inap dan meninggal dunia adalah yang tidak divaksinasi.

Di Missouri, pemerintah Amerika Serikat sampai mengerahkan tim darurat (termasuk anggota dari CDC dan Badan Manajemen Darurat Federal) untuk membantu menghentikan penyebaran virus. CEO CoxHealth Steve Edwards mengatakan tren yang sama terjadi di sana.

"Kami melihat pasien-pasien yang datang lebih muda dan lebih sakit," katanya kepada USA Today.

Menurut Johns Hopkins, secara keseluruhan, Amerika Serikat melaporkan 32.765 kasus baru dan 236 kematian terkait COVID-19 pada hari Senin (12/7) waktu setempat.

Lihat juga video 'Joe Biden: Vaksin Adalah Pertahanan Terbaik Hadapi Varian Delta':

[Gambas:Video 20detik]



(aud/aud)