Eks Tentara Kolombia Dituduh Bunuh Presiden Haiti, Kerabat Menepis

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Minggu, 11 Jul 2021 10:16 WIB
Bogota -

Saudara perempuan dari salah satu eks tentara Kolombia, yang tewas ditembak polisi Haiti, menyebut kerabatnya itu dipekerjakan sebagai pengawal. Kesaksian ini bertentangan dengan otoritas setempat yang menyampaikan 26 warganya, termasuk 17 eks tentaranya terlibat dalam pembunuhan Presiden Haiti, Jovenel Moise.

"Ada sesuatu yang janggal," kata saudara eks tentara bernama Duberney Capador, Jenny Carolina Capador seperti dilansir dari Reuters, Minggu (11/7/2021).

"Yang saya tahu, dan yang akan saya yakinkan ke seluruh dunia, adalah bahwa saudara laki-laki saya adalah orang yang benar dan saudara laki-laki saya tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan kepadanya." lanjutnya.

Jenny Calorina mengatakan Duberney - yang terlatih dalam kontraterorisme - sudah pensiun sebagai tentara usai berkarir selama 21 tahun di tahun 2019 lalu.

Di masa pensiunnya, ayah dua anak tersebut disibukkan dengan ternak ayam dan ikan. Ia kemudian mendapat tawaran pekerjaan sebagai pengawal dari mantan rekannya.

"Mereka memberinya tawaran untuk bekerja di sektor keamanan, untuk memberikan keamanan dan berkolaborasi dengan perlindungan bagi orang-orang penting, dan mereka akan membayarnya dengan bayaran yang layak," kata Jenny Carolina

Jenny Carolina mengaku sempat berkomunikasi dengan Duberney terkait pembunuhan Presiden Haiti.

"Dalam percakapan terakhir yang saya lakukan dengan saudara laki-laki saya, dia memberi tahu saya, 'Kami sampai di sini terlambat; sayangnya, orang yang akan kami jaga, kami tidak bisa berbuat apa-apa,'" kenangnya.

Kemudian pada malam harinya, Duberney memberi tahu melalui pesan singkat bahwa dirinya diserang. Dia memintanya untuk tidak memberi tahu ibu mereka tentang situasi tersebut dan akan berusaha mencari jalan keluar.

"Dia mengatakan kepada saya, 'Kami terjebak, mereka mengurung kami dan mereka menembak,'" cerita Jenny Carolina.

"Sampai 5:50 (sore), saya menghubunginya kembali untuk mengetahui keadaannya, dan dia berkata 'baik' dan sejak itu saya tidak pernah mendengar apa pun lagi dari saudara saya."