Pangeran Yordania Minta Dukungan Arab Saudi untuk Kudeta Raja Abdullah II

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 14 Jun 2021 15:06 WIB
Jordanian Prince Hamzah bin al-Hussein, president of the Royal Aero Sports Club of Jordan, carries a parachute during a media event to announce the launch of
Mantan Putra Mahkota Yordania, Pangeran Hamzah bin Hussein, yang sempat menjadi tahanan rumah (dok. AFP/KHALIL MAZRAAWI)

Dalam tanggapannya, otoritas Saudi membantah terlibat dalam plot mendestabilisasi keamanan Yordania itu. Setelah berita itu pertama mencuat, Saudi dengan cepat menyatakan 'dukungan penuhnya' untuk Yordania.

"Dan untuk keputusan dan langkah yang diambil oleh Raja Abdullah II dan Putra Mahkota Hussein untuk menjaga keamanan dan stabilitas," demikian pernyataan Saudi.

Sementara Pangeran Hamzah tidak akan disidang, dugaan perannya dalam kasus ini menjadi pusat dalam persidangan.

"Pangeran Hamzah bertekad untuk memenuhi ambisi pribadinya untuk berkuasa, yang melanggar konstitusi dan adat Hashemite," demikian bunyi penggalan dakwaan dalam kasus ini.

"Agar berhasil, dia berupaya mengeksploitasi kekhawatiran dan persoalan populasi dan membangkitkan hasutan dan rasa frustrasi dalam masyarakat," imbuh dakwaan itu.

Salah satu terdakwa, Awadallah, disebut beberapa media Yordania sebagai sosok yang dekat dengan Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman. Dakwaan itu menyebut Awadallah 'dekat dengan sejumlah pejabat Kerajaan Arab Saudi' dan memiliki jaringan kontak di luar negeri.

Menurut dakwaan tersebut, Pangeran Hamzah dilaporkan khawatir soal perilaku Saudi. "Jika sesuatu yang buruk terjadi pada saya di Yordania, apakah para pejabat Saudi membantu saya atau tidak?" ucap Pangeran Hamzah saat bertanya kepada Awadallah seperti tertuang dalam dokumen dakwaan.

Dalam pernyataannya pada April lalu, Pangeran Hamzah yang dilucuti dari gelar Putra Mahkota Yordania oleh Raja Abdullah II pada tahun 2004 lalu, ini membantah telah melakukan konspirasi, tetapi menuduh para pemimpin Yordania tidak mampu menjalankan pemerintahan dan melakukan korupsi.

Setelah sempat menjadi tahanan rumah, Pangeran Hamzah, yang dikenal sangat kritis terhadap pemerintah Yordania, menyatakan sumpah setia pada Raja Abdullah II.


(nvc/ita)