Kebijakan China Bisa Cegah Kelahiran Jutaan Bayi Uighur di Xinjiang

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 08 Jun 2021 15:56 WIB
Pemerintah China klaim kamp di Xinjiang, China, tawarkan pelatihan sukarela bagi etnis Uighur. Namun, dokumen rahasia yang bocor ke publik berkata sebaliknya.
Ilustrasi -- Situasi di Xinjiang (dok. AP Photo)
Beijing -

Sebuah kajian baru mendapati bahwa kebijakan China untuk mengendalikan kelahiran di wilayah Xinjiang bisa mencegah kelahiran sekitar empat juta bayi warga minoritas Muslim Uighur dalam dua dekade ke depan. Kebijakan itu disebut bertujuan secara spesifik untuk mengurangi populasi warga Uighur di Xinjiang.

Seperti dilansir AFP, Selasa (8/6/2021), proyeksi dalam kajian terbaru itu menunjukkan bahwa penurunan angka kelahiran di kalangan warga minoritas bisa meningkatkan proporsi jumlah warga etnis Han -- kelompok mayoritas di China -- dari 8,4 persen menjadi 25 persen di kawasan Xinjiang.

Selama bertahun-tahun, China diketahui berusaha memperketat cengkeramannya atas area perbatasan yang luas, yang secara historis ditandai oleh ketidaksetaraan ekonomi dan pecahnya kerusuhan secara sporadis.

Jutaan warga etnis Han direlokasi ke wilayah Xinjiang dalam beberapa dekade untuk mencari pekerja di wilayah yang kaya batubara dan minyak itu, dalam upaya permukiman yang memicu gesekan di lapangan.

Peneliti Jerman, Adrian Zenz, mengatakan bahwa dokumen yang tersedia untuk umum yang disusun para peneliti keamanan China menyalahkan kepadatan komunitas minoritas sebagai 'alasan mendasar' untuk pecahnya kerusuhan dan mengusulkan pengendalian populasi sebagai metode pengurangan risiko.

Pada saat bersamaan, sebut Zenz, kekhawatiran soal kurangnya sumber daya alam untuk mendukung aliran pemukim Han, menunjukkan bahwa otoritas China memandang penekanan angka kelahiran sebagai cara utama memanipulasi susunan demografi di area tersebut.

Pekan lalu, China mengumumkan reformasi besar-besaran untuk kebijakan jumlah anak bagi warganya, dengan menaikkannya menjadi tiga anak saat negara ini berjuang menghadapi populasi yang menua.

Namun para akademisi menyatakan China tidak menanggap semua baya sama diinginkannya di Xinjiang, dan secara aktif menerapkan kebijakan mengurangi jumlah anak yang lahir dari kelompok etnis minoritas. Strategi yang diambil pemerintah China termasuk meningkatkan kebijakan pengendalian kelahiran di Xinjiang, termasuk memenjarakan orang-orang yang memiliki terlalu banyak anak dan klaim sterilisasi paksa.

Selanjutnya
Halaman
1 2