Corona Menggila, PM India Justru Lanjutkan Renovasi Parlemen Rp 25,4 T

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 08 Mei 2021 13:20 WIB
FILE PHOTO: Indias Prime Minister Narendra Modi speaks during the Vibrant Gujarat Global Summit in Gandhinagar, India, January 18, 2019. REUTERS/Amit Dave/File Photo
PM India, Narendra Modi (dok. REUTERS/Amit Dave)
New Delhi -

Saat rumah sakit kekurangan pasokan oksigen medis dan banyak pasien terinfeksi virus Corona (COVID-19) meninggal di luar rumah sakit, Perdana Menteri (PM) India, Narendra Modi, justru melanjutkan proyek renovasi parlemen senilai US$ 1,8 miliar (Rp 25,4 triliun). Proyek ini menyertakan rumah baru bagi sang PM di dalamnya.

Seperti dilansir CNN, Sabtu (8/5/2021), keputusan melanjutkan proyek di New Delhi ini memicu kemarahan publik dan politikus oposisi, yang mengecam ketidakpantasan dalam mengucurkan dana sebanyak itu untuk proyek konstruksi saat negara tengah menghadapi krisis kesehatan publik terburuk yang pernah ada.

Proyek renovasi bernama Proyek Pembangunan Kembali Central Vista yang menghabiskan banyak dana itu telah dikategorikan sebagai 'layanan esensial', yang berarti pembangunannya diperbolehkan untuk berlanjut bahkan saat proyek-proyek pembangunan lainnya dihentikan.

Dua warga India, yang salah satunya terinfeksi Corona, mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Delhi pada Rabu (5/5) waktu setempat, untuk berupaya menghentikan proyek tersebut. Diketahui bahwa proyek renovasi parlemen itu terus berlanjut meskipun New Delhi tengah di-lockdown.

Dalam gugatannya, kedua penggugat berargumen bahwa gedung parlemen bukan merupakan layanan esensial dan pekerjaan konstruksi bisa menjadi peristiwa super-spreader Corona. Disebutkan dokumen gugatan yang diajukan oleh pengacara bernama Nitin Saluja itu bahwa para pekerja konstruksi rutin dibawa dari asrama pekerja menuju ke lokasi proyek.

Pengadilan Tingi Delhi menawarkan untuk menggelar sidang gugatan pada akhir bulan ini, namun para pengunggat membawa kasus ini ke Mahkamah Agung. Mereka berargumen bahwa pengadilan lebih rendah 'gagal mengapresiasi beratnya' situasi yang ada.

"Mengingat ada darurat kesehatan publik dalam hal ini, setiap penundaan akan merugikan kepentingan publik yang lebih besar," tulis Saluja dalam permohonan kepada Mahkamah Agung India.

Diketahui bahwa India dilaporkan mencatat tambahan 1,57 juta kasus Corona hanya dalam sepekan terakhir di berbagai wilayahnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2