Kasus Corona di India Hampir 350 Ribu Sehari, New Delhi Lanjut Lockdown

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Minggu, 25 Apr 2021 16:29 WIB
A COVID-19 victim is cremated in Vasai, outskirts of Mumbai, India, Thursday, April 15, 2021. India reported more than 200,000 new coronavirus cases Thursday, skyrocketing past 14 million overall as an intensifying outbreak puts a grim weight on its fragile health care system.
COVID India (Foto: AP Photo)
New Delhi -

Ibu kota India, New Delhi, memperpanjang lockdown selama satu minggu kedepan usai kasus harian baru dan kematian akibat infeksi COVID-19 India mencapai rekor tertinggi, yakni hampir 350.000 kasus baru.

Seperti dilansir dari kantor berita AFP, Minggu (25/4/2021) negara besar berpenduduk 1,3 miliar itu mencatat 349.691 kasus harian baru dan 2.767 kematian - tertinggi sejak dimulainya pandemi di India. Akibatnya sejumlah tempat tidur rumah sakit penuh dan persediaan oksigen langka.

"Kami telah memutuskan untuk memperpanjang lockdown selama satu minggu," kata Kepala Menteri New Delhi Arvind Kejriwal dalam sebuah pernyataan video.

"Malapetaka (virus) corona terus berlanjut dan tidak ada jeda. Semua orang mendukung perpanjangan lockdown." lanjutnya.

Keputusan tersebut ditempuh usai sistem perawatan kesehatan India sedang berjuang melawah kekurangan oksigen dan obat-obatan. Sementara banyak keluarga pasien juga kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.

Sejumlah kritik ke pemerintah India berdatangan karena mereka dituduh tidak bersiap melawan gelombang kedua COVID-19.

Pada hari Minggu (25/4), Twitter mengonfirmasi telah menahan puluhan tweet yang mengkritik krisis yang sedang berlangsung atas permintaan pemerintah India. Raksasa media sosial itu memblokir sejumlah tweet usai pemerintah India mengirimkan tuntutan hukum. Sebelumnya, pemerintah India juga sempat menempuh tindakan serupa usai UU pertanian yang baru dikritik sehingga memicu gelombang protes dan kekerasan.

Tak hanya dari warga India, sejumlah kritik juga datang dari anggota parlemen oposisi regional. Mereka mengkritisi sistem perawatan kesehatan yang kewalahan, yang telah menyebabkan pasien meninggal karena kekurangan oksigen.

"Saat kami menerima permintaan hukum yang valid, kami meninjaunya berdasarkan Peraturan Twitter dan hukum setempat," kata Twitter dalam sebuah pernyataan.

"Jika konten melanggar aturan Twitter, konten tersebut akan dihapus dari layanan. Jika ditetapkan sebagai ilegal di yurisdiksi tertentu, tetapi tidak melanggar aturan Twitter, kami dapat menahan akses ke konten tersebut di India saja,"

Menurut data yang dihimpun AFP, dalam tujuh hari terakhir, India telah mencatat lebih dari dua juta kasus - meningkat 58 persen dari minggu sebelumnya.

Kota-kota lain di India memberlakukan lockdown, aturan jam malam, atau pembatasan lainnya untuk menahan laju penyebaran COVID-19.

Lebih lanjut, pemerintah India terus berupaya menyediakan pasokan oksigen melalui kereta api khusus dan jalur udara dari negara lain.

Simak video 'Corona di India Menggila, Situasinya Benar-benar Buruk!':

[Gambas:Video 20detik]



(izt/imk)