Rekor! 2.000 Orang Meninggal karena Corona di India dalam Sehari

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 21 Apr 2021 16:12 WIB
A body of a COVID 19 victim waits to be cremated in New Delhi, India, Monday, April 19, 2021. New Delhi has imposed a weeklong lockdown to prevent the collapse of the Indian capitals health system amid an explosive surge in coronavirus cases. Authorities said Monday that hospitals have been pushed to their limit. India now has reported more than 15 million coronavirus infections, a total second only to the United States. (AP Photo/Manish Swarup)
Foto: AP/Manish Swarup
Jakarta -

India melaporkan lebih dari 2.000 kematian akibat COVID-19 pada Rabu (21/4) ini, jumlah kematian harian tertinggi di negara itu sejauh ini.

Seperti dilansir Channel News Asia, Rabu (21/4/2021), Kementerian Kesehatan India melaporkan 295.000 kasus baru infeksi Corona dalam 24 jam, setara dengan jumlah yang terlihat di Amerika Serikat pada Januari lalu, dan 2.023 kematian dalam sehari, menjadikan total korban jiwa di India sejauh ini menjadi 182.553 orang.

Jumlah kematian harian telah mencapai level tertinggi sebelumnya pada hari Selasa (20/4), dengan 1.761 orang meninggal karena virus Corona.

Dalam pidatonya pada Selasa (20/4) malam, Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan bahwa negara berpenduduk 1,3 miliar itu "sekali lagi berjuang dalam pertarungan besar".

Situasi terkendali hingga beberapa minggu yang lalu, dan kemudian gelombang kedua (virus Corona) datang seperti badai, kata Modi.

Beberapa minggu terakhir di India telah berlangsung pertemuan massal termasuk jutaan orang yang menghadiri festival keagamaan Kumbh Mela, kampanye politik serta pernikahan mewah dan pertandingan kriket.

Sejumlah negara seperti Amerika Serikat telah mengeluarkan imbauan bagi warganya untuk tidak bepergian ke India, bahkan bagi mereka yang sudah divaksinasi penuh. Hong Kong dan Selandia Baru juga telah melarang penerbangan dari negara tersebut.

Secara keseluruhan, jumlah kasus infeksi Corona di India sekarang mencapai 15,6 juta kasus, terbanyak kedua di dunia setelah Amerika Serikat, yang telah melaporkan lebih dari 31 juta kasus infeksi.

(ita/ita)