Round Up

Kala Turki Gerah Erdogan Dicap 'Diktator' oleh PM Italia

Tim Detikcom - detikNews
Sabtu, 10 Apr 2021 04:24 WIB
President of Turkey Recep Tayyip Erdogan makes a statement after chairing the cabinet meeting in Ankara, on December 14, 2020. (Photo by Adem ALTAN / AFP)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Foto: AFP/ADEM ALTAN)
Jakarta -

Komentar Perdana Menteri (PM) Italia membuat geram pemerintah Turki. Kemarahan Turki dipicu oleh komentar kontroversial PM Italia, Mario Draghi, yang menyebut Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan sebagai 'diktator'. Tidak hanya mengecam PM Draghi, otoritas Turki juga memanggil Duta Besar Italia di Ankara untuk menyampaikan protes.

Seperti dilansir Anadolu News Agency dan Daily Sabah, Jumat (9/4/2021), Kementerian Luar Negeri Turki memanggil Dubes Italia di Ankara, Massimo Gaiani, untuk menyampaikan protes dan kecaman terhadap komentar PM Draghi tersebut. Dubes Gaiani telah bertugas sebagai Dubes Italia di Turki sejak Januari 2019 lalu.

Wakil Menteri Luar Negeri Turki, Faruk Kaymakci, menyatakan bahwa Dubes Gaiani dipanggil untuk datang ke kantor Kementerian Luar Negeri Turki pada Kamis (8/4) waktu setempat.

Menurut Kaymakci, dalam pemanggilan itu, sang Dubes Italia diberitahu bahwa Turki mengecam komentar PM Draghi soal Erdogan, yang disebut menjadi Presiden Turki dengan menerima dukungan tertinggi rakyatnya di Eropa.

Dituturkan juga oleh Kaymakci bahwa otoritas Turki berharap PM Draghi menarik kembali komentarnya yang menyebut Erdogan sebagai 'diktator' tersebut. Dia menyebut komentar itu bertentangan dengan persahabatan dan aliansi Turki-Italia selama ini.

Komentar kontroversial PM Draghi itu dilontarkan saat konferensi pers pada Kamis (8/4) waktu setempat, ketika dia dimintai pendapatnya soal perselisihan diplomatik mengenai pengaturan tempat duduk selama pertemuan antara Erdogan dan pejabat tinggi Uni Eropa di Turki yang digelar Rabu (7/4) lalu.

Dalam pertemuan itu, Erdogan dan Kepala Dewan Uni Eropa, Charles Michel, duduk di kursi masing-masing, sedangkan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, awalnya dibiarkan berdiri. Von der Leyen kemudian ditawari duduk di sofa, yang posisinya berseberangan dengan Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu.

Situasi itu menuai banyak kritikan, terutama yang ditujukan pada Turki sebagai tuan rumah pertemuan tersebut. Dalam komentar kepada wartawan, Cavusoglu menegaskan bahwa otoritas Turki telah memenuhi semua persyaratan protokol yang diminta pihak Uni Eropa terkait pertemuan itu.

Selanjutnya
Halaman
1 2