32 Bekas Tentara Turki Dibui Seumur Hidup Atas Percobaan Kudeta

Rita Uli Hutapea - detikNews
Kamis, 08 Apr 2021 15:43 WIB
Ilustrasi sidang (Reuters)
ilustrasi (Foto: Reuters)
Jakarta - Dalam persidangan massal, pengadilan Ankara, Turki menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada 32 bekas tentara karena berusaha menggulingkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam percobaan kudeta pada tahun 2016.

Seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (8/4/2021), sebanyak 497 terdakwa, termasuk mantan tentara di resimen pengawal presiden, diadili di gedung pengadilan Sincan di luar Ankara pada Rabu (7/4) waktu setempat. Di antara mereka yang dihukum karena "melanggar tatanan konstitusional" adalah mantan pejabat militer yang berusaha mengambil alih markas militer di Ankara dan siaran nasional TRT.

Upaya kudeta 2016 menewaskan sekitar 250 orang dan mengguncang Turki. Otoritas Turki menuduh Fethullah Gulen, seorang ulama yang berbasis di AS, mendalangi kudeta gagal tersebut. Namun, Gulen membantah tuduhan itu dan Amerika Serikat belum memenuhi permintaan ekstradisinya oleh pemerintah Turki.

Terdakwa terkenal yang divonis penjara seumur hidup pada hari Rabu (7/4) termasuk mantan Letkol Umit Gencer, yang memimpin orang-orangnya ke gedung TRT dan memaksa seorang presenter televisi untuk membacakan deklarasi kudeta militer. Mantan Kolonel Muhammet Tanju Poshor, yang memerintahkan pengambilalihan TRT, dijatuhi dua hukuman seumur hidup, sedangkan mantan Mayor Fedakar Akca dijatuhi hukuman seumur hidup karena berusaha merebut markas militer.

Mantan Kolonel Muhsin Kutsi Baris, yang pernah memimpin resimen pengawal presiden, dijatuhi hukuman 61,5 tahun dan 106 terdakwa lainnya menerima hukuman penjara antara enam tahun dan 16 tahun. Kecuali para terdakwa buronan, para tersangka lainnya dibebaskan atau tidak dihukum penjara.

Hukuman tersebut mengakhiri kasus yang dimulai pada 2017 dan menandai persidangan kudeta terakhir yang berlangsung di gedung pengadilan Sincan seukuran arena olahraga, yang secara khusus dibangun untuk menjadi tuan rumah persidangan terkait kudeta. (ita/ita)