Round Up

Seratusan Nyawa Hilang Bikin Junta Myanmar Dihujani Kecaman

Tim Detikcom - detikNews
Senin, 29 Mar 2021 20:01 WIB
YANGON, MYANMAR - MARCH 21: (EDITORS NOTE: Image contains graphic content) Mourners prepare to carry the body of Aung Kaung Htet, 15, who was killed when military junta forces opened fire on anti-coup protesters, in a coffin during his funeral on March 21, 2021 in Yangon, Myanmar. Myanmars military Junta charged deposed de-facto leader Aung San Suu Kyi with accepting bribes and taking illegal payments in gold, as it also continued a brutal crackdown on a nationwide civil disobedience movement in which thousands of people have turned out in continued defiance of tear gas, rubber bullets and live ammunition. Over 180 people have been killed so far according to the U.N. (Photo by Stringer/Getty Images)
Jerit Tangis Keluarga Korban yang Ditembak Militer Myanmar (Foto: Getty Images)

Pernyataan itu muncul setelah para kepala Pertahanan dari 12 negara termasuk AS, Inggris, Jepang, dan Australia mengecam militer Myanmar.

"Seorang militer profesional mengikuti standar perilaku internasional dan bertanggung jawab untuk melindungi - bukan merugikan - orang-orang yang dilayaninya," kata pernyataan bersama itu.

"Kami mendesak Angkatan Bersenjata Myanmar untuk menghentikan kekerasan dan bekerja untuk memulihkan rasa hormat dan kredibilitas dengan rakyat Myanmar yang telah hilang melalui tindakannya," imbuhnya.

PBB turut mengatakan serangan dan penembakan bahkan terhadap anak-anak harus segera dihentikan.

"Tindakan memalukan, pengecut, dan brutal dari militer dan polisi - yang menembaki pengunjuk rasa saat mereka melarikan diri, dan yang bahkan tidak menyelamatkan anak-anak kecil - harus segera dihentikan," kata utusan PBB, Alice Wairimu Nderitu dan Michelle Bachelet dalam pernyataan bersama.

Henrietta Fore, Direktur Eksekutif UNICEF, mengatakan 10 anak dilaporkan telah ditembak dan dibunuh pada hari Sabtu (27/3).

"Selain dampak langsung dari kekerasan, konsekuensi jangka panjang dari krisis bagi anak-anak Myanmar bisa menjadi bencana besar," kata Fore dalam sebuah pernyataan.

Halaman

(izt/ita)