Klinik di Hong Kong Dihukum karena Rekomendasikan Vaksin Pfizer

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Rabu, 24 Mar 2021 16:56 WIB
Vaksin COVID-19 buatan Sinovac (Esti Widiyana/detikcom)
Vaksin COVID-19 buatan Sinovac (Foto: Esti Widiyana/detikcom)
Hong Kong -

Otoritas kesehatan Hong Kong telah mengeluarkan sebuah klinik swasta dari program vaksinasi virus Corona kota itu. Hal tersebut sebagai hukuman setelah klinik itu dilaporkan merekomendasikan vaksin Pfizer/BioNTech buatan Jerman dan bukannya vaksin Sinovac buatan China.

Seperti dilansir AFP, Rabu (24/3/2021), langkah tersebut menggambarkan sikap sensitif pemerintah Hong Kong terhadap setiap kritik terhadap vaksin Sinovac, yang memiliki tingkat kemanjuran yang relatif lebih rendah dan dapat terlacak dengan cepat oleh regulator meskipun kurangnya data yang dipublikasikan.

Pada Selasa (23/3) Departemen Kesehatan Hong Kong mengatakan bahwa klinik tersebut tidak akan lagi memberikan vaksin COVID-19 karena seorang dokter melanggar kesepakatan dengan program inokulasi. Pihak berwenang juga telah mengambil kembali dosis vaksin Sinovac yang tidak digunakan di klinik itu.

Sikap itu diambil usai sebuah pemberitahuan di klinik itu viral di media sosial selama sepekan terakhir. Pemberitahuan itu berisi perbandingan tingkat kemanjuran vaksin Pfizer/BioNTech dan Sinovac.

"Saran: jangan gunakan Sinovac, pakailah BioNTech," demikian bunyi pemberitahuan itu, menambahkan bahwa salah satu dokter di klinik itu sendiri telah memilih vaksin Pfizer/BioNTech.

Sejauh ini total sekitar 403.000 warga Hong Kong - sekitar lima persen dari populasi kota itu - telah menerima dosis pertama vaksin. Lebih dari 250.000 orang di antaranya mendapat suntikan vaksin Sinovac, sedangkan sisanya mendapat vaksin Pfizer-BioNTech.

Hong Kong memulai kampanye vaksinasi bulan lalu, namun program masih lambat lantaran ketidakpercayaan warga terhadap China, yang dipicu oleh tindakan keras China terhadap gerakan demokrasi kota itu.

Sebuah jajak pendapat baru-baru ini mengatakan hanya 37 persen orang dewasa yang berencana untuk divaksinasi.

Pemimpin Hong Kong Carrie Lam sebelumnya mengeluhkan antusiasme warga terhadap vaksinasi dan menuduh kritikus "mencoreng" vaksin China.

Sementara itu, beberapa ahli epidemiologi terkemuka di kota itu secara terbuka menyatakan bahwa vaksin Pfizer/BioNtech jauh lebih efektif.

Lihat juga Video: Badan Intelijen Korsel Sebut Korut Coba Retas Server Pfizer

[Gambas:Video 20detik]



(izt/ita)