Swiss Setujui Penggunaan Vaksin COVID-19 J&J

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Selasa, 23 Mar 2021 04:45 WIB
FILE - This September 2020 photo provided by Johnson & Johnson shows a single-dose COVID-19 vaccine being developed by the company. A late-stage study of Johnson & Johnson’s COVID-19 vaccine candidate has been paused while the company investigates whether a study participant’s “unexplained illness” is related to the shot, the company announced Monday, Oct. 12, 2020. (Cheryl Gerber/Courtesy of Johnson & Johnson via AP, File)
Foto: Cheryl Gerber/Courtesy of Johnson & Johnson via AP, File
Jenewa -

Regulator Swiss memberikan lampu hijau untuk penggunaan vaksin COVID-19 Johnson & Johnson (J&J). Negara ini sebelumnya telah menyetujui penggunaan vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna.

Dilansir AFP, Selasa (23/3/2021) otoritas pengaturan Swissmedic mengatakan bahwa mereka telah mengesahkan penggunaan vaksin J&J. Vaksin dosis tunggal ini dapat disimpan di pendingin biasa dari pada suhu yang sangat dingin.

"Setelah meninjau dengan cermat semua dokumentasi yang diserahkan, Swissmedic telah memberikan otoritas sementara COVID-19 Vaccine Janssen," demikian pernyataan Swissmedic.

"Ini menambang jumlah vaksin yang secara resmi diizinkan untuk didistribusikan di Swiss untuk pencegahan COVID-19," katanya seraya menambahkan bahwa suntikan itu dapat digunakan kepada golongan yang berumur di atas 18 tahun.

Swiss adalah negara pertama di Eropa yang mulai menggunakan Pfizer-BioNTech, dan juga menandatangani vaksin mRNA yang diproduksi oleh Moderna.

Namun, Swiss belum mengizinkan penggunaan vaksin AstraZeneca. Otoritas setempat mengatakan bulan lalu bahwa mereka akan menunggu lebih banyak data tentang "keamanan, kemanjuran, dan kualitas" suntikan itu.

Vaksin Johnson & Johnson telah menunjukkan efektifitas sebesar 66,9 persen dalam uji klinis, tetapi telah terbukti lebih efektif di antara orang tua dan terbukti 85 persen efektif melawan penyakit serius.

Swissmedic juga menyoroti fakta bahwa vaksin itu terbukti efektif melawan varian virus yang lebih menular yang pertama kali terdeteksi di Brasil dan Afrika Selatan.

Vaksin tersebut telah disetujui antara lain oleh Organisasi Kesehatan Dunia, Uni Eropa, Amerika Serikat, Kanada, dan Afrika Selatan.

Seperti kebanyakan negara Eropa lainnya, Swiss bersiap untuk gelombang ketiga penularan COVID-19, dan minggu lalu memutuskan untuk menunda rencana untuk melonggarkan pembatasan.

Negara berpenduduk 8,6 juta orang tersebut hingga saat ini menghitung lebih dari 580.000 kasus COVID-19 dan hampir 9.500 kematian.

Sejauh ini, hampir 1,2 juta dosis vaksin telah diberikan di Swiss, dan lebih dari 433.000 orang telah divaksinasi secara penuh.

(lir/lir)