Eropa Desak Turki Balik ke Pakta Pencegahan Kekerasan terhadap Wanita

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Minggu, 21 Mar 2021 16:38 WIB
A protester (C) holds a picture of a woman killed by a man, where it is reading
Protes usai Turki keluar dari pakta perlindungan kekerasan terhadap wanita (Foto: AFP/BULENT KILIC)
Istanbul -

Para pemimpin negara-negara Eropa mengkritik sikap membingungkan Turki terkait keputusannya menarik diri dari kesepakatan internasional yang dirancang untuk melindungi perempuan dari kekerasan. Mereka juga mendesak Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk mempertimbangkannya kembali.

Seperti dilansir Reuters, Minggu (21/3/2021) pemerintah Erdogan menarik diri dari Konvensi Istanbul, yang ditandatangani pada tahun 2011. Turki mengatakan hukum domestik akan melindungi hak-hak perempuan.

Kesepakatan Dewan Eropa itu berjanji untuk mencegah, mengadili dan menghapus kekerasan dalam rumah tangga dan mempromosikan kesetaraan. Dalam beberapa tahun terakhir, angka pembunuhan terhadap wanita telah melonjak di Turki.

Usai Turki keluar, ribuan wanita melakukan protes pada hari Sabtu (20/3) terhadap langkah pemerintah di Istanbul dan kota-kota lain.

Jerman, Prancis, dan Uni Eropa menanggapi sikap Turki dengan cemas - kedua kalinya para pemimpin Eropa mengkritik Turki atas masalah hak asasi, setelah seorang jaksa Turki bergerak untuk menutup partai politik pro-Kurdi.

"Kami sangat menyesali dan menyatakan ketidaktahuan terhadap keputusan pemerintah Turki," kata Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell, pada Sabtu malam waktu setempat.

"Ini berisiko membahayakan perlindungan dan hak-hak fundamental perempuan dan anak perempuan di Turki, serta mengirimkan pesan berbahaya ke seluruh dunia," katanya. "Karena itu kami tidak bisa tidak mendesak Turki untuk membatalkan keputusannya."

"Wanita berhak mendapatkan kerangka hukum yang kuat untuk melindungi mereka," tulis Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen - yang berbicara dengan Erdogan sehari sebelum Turki membatalkan pakta tersebut - di Twitter pada hari Minggu (21/3). Von der Leyen juga meminta semua penandatangan untuk meratifikasi kesepakatan tersebut.

Simak juga 'Usai 7 Tahun, Turki Akhirnya Jalin Kerja Sama dengan Mesir':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2