Round-Up

Tak Henti Warga Myanmar Ditodong Moncong Senjata Usai Kudeta

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 21 Mar 2021 06:06 WIB
Anti-coup protesters test an improvised weapon they have made to fight with armed Myanmar security forces in Yangon, Myanmar Wednesday, March 17, 2021. (AP Photo)
Barikade dipasang para demonstran di jalan-jalan (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Warga Myanmar hingga kini masih melakukan unjuk rasa. Mereka menolak aksi kudeta yang dilakukan militer Myanmar.

Untuk membubarkan massa, aparat Myanmar tak segan untuk menembak dengan menggunakan peluru tajak. Warga Myanmar pun membuat barikade darurat dari bambu, batu bata, dan ban karet yang terbakar telah membuat jalan-jalan di Yangon, kota terbesar Myanmar tampak seperti zona perang. Kini, militer Myanmar memaksa warga sipil untuk membongkarnya, sepotong demi sepotong, di bawah todongan senjata.

Dibangun menggunakan bahan apa pun, barikade yang bermunculan di Yangon menawarkan sedikit perlindungan terhadap peluru tajam yang dilepaskan pasukan keamanan terhadap para demonstran antikudeta. Para demonstran memang menang dalam hal jumlah dibanding pasukan keamanan, tapi mereka tidak punya cara nyata untuk memerangi gas air mata, peluru karet, dan tembakan senapan dari tentara dan polisi.

Seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (20/3/2021), kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik menyebutkan, sekitar 230 orang telah tewas dalam aksi-aksi demo antikudeta yang berlangsung sejak kudeta militer pada 1 Februari lalu. Jumlah korban sebenarnya di seluruh negeri diyakini jauh lebih tinggi.

Barikade tersebut telah menjadi semacam ciri khas para pengunjuk rasa. Mereka memblokir jalan-jalan utama dan menggunakan segala sesuatu mulai dari kantong semen yang diisi pasir dan sekat bambu hingga tempat sampah besar dan batu bata.

Tun Hla (60) berada di rumah ketika personel bersenjata menggedor pintunya dan menyuruh dia bekerja membersihkan barikade yang didirikan di lingkungannya.

"Saya pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya dan itu tidak akan terjadi lagi," kata Tun Hla, bukan nama sebenarnya, kepada AFP.

Selama periode di bawah junta militer, adalah tipikal personel militer di seluruh negeri untuk memerintahkan keluarga agar menyediakan satu orang yang sehat untuk melakukan pekerjaan yang melelahkan.

"Penggunaan kerja paksa bukanlah hal baru di Myanmar," kata John Quinley dari kelompok Fortify Rights, seraya menambahkan bahwa itu adalah "taktik brutal yang digunakan untuk menciptakan lingkungan ketakutan dan intimidasi".

Meski menderita sakit punggung kronis, Tun Hla tidak punya pilihan selain mengikuti perintah aparat bersenjata. Dia pun bergabung dengan tetangganya dalam memindahkan karung pasir dan tiang bambu yang menumpuk di jalan.

Hal senada disampaikan Sabel (20) yang mengatakan dia dan ibunya yang menjanda dipaksa dengan todongan senjata untuk membongkar satu barikade jalan di lingkungan mereka.

"Saya belum pernah melakukan ini sebelumnya dalam hidup saya," katanya.

Sabel mengatakan dirinya juga melihat petugas keamanan menodongkan senjata ke dua anak laki-laki ketika mereka berjuang untuk mengangkat karung pasir dan melepaskan pagar bambu.

Tonton video 'PBB Ungkap 15 Remaja Tewas Selama Kudeta Myanmar':

[Gambas:Video 20detik]



Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2