Round Up

Tato Tanda Cinta Demonstran ke Suu Kyi

Tim Detikcom - detikNews
Rabu, 10 Mar 2021 20:19 WIB
tato Aung San Suu Kyi
Salah satu tato berwajah Suu Kyi di tubuh demonstran Myanmar (Foto: Robert Bociaga via CNN)
Jakarta -

Rasa cinta demonstran antikudeta Myanmar terhadap Aung San Suu Kyi diwujudkan dengan cara unik. Para pengunjuk rasa mengekspresikan protes melalui berbagai karya seni, seperti mural besar, karya seni pinggir jalan, dan tanda-tanda protes satir yang mengejek pemimpin kudeta Jenderal Min Aung Hlaing, dan yang paling populer, tato gambar Aung San Suu Kyi.

Seperti dilansir CNN, Rabu (10/3/2021), aksi ditato beramai-ramai dilakukan pada Jumat (5/3) di Nyaung Shwe diikuti oleh sekitar 70 orang.

"Tato adalah kenangan abadi sepanjang hidup Anda, dan cara untuk mengekspresikan impian kita. Itu tidak bisa disingkirkan dan karena itu menunjukkan solidaritas kami. Itu menyatukan kami para pengunjuk rasa," ujar Htun Htun, warga Nyaung Shwe, yang berasal dari Yangon.

Menurut pembuat tato, desain yang paling populer adalah gambar wajah Aung San Suu Kyi.

"Saya memutuskan untuk menato tubuh saya karena saya mencintai Aung San Suu Kyi dan mengagumi orang-orang yang berdiri dan menderita di bawah kediktatoran. Untuk membuat tato itu menyakitkan tapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit hati kami (akibat kudeta). Saya ingin kebebasan kami kembali, "kata Moh Moh, peserta berusia 26 tahun yang tidak ingin memberikan nama lengkapnya karena alasan keamanan.

"Kampanye tato adalah ide kami sendiri - ini adalah sekelompok penato yang menggunakan acara tersebut untuk mendukung CDM. Apa yang terjadi sekarang dengan protes lebih mengkhawatirkan daripada COVID-19," kata ketua penyelenggara Nyi Nyi Lwin.

Delapan pembuat tato melakukan tugasnya pada belasan peserta yang masing-masing dimintai sumbangan minimal US$ 2 (Rp 28 ribu). Setiap tato membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk diselesaikan. Peserta diberi pilihan empat macam tato: wajah pemimpin yang digulingkan, Aung San Suu Kyi, kata-kata "Revolusi Musim Semi," frasa "Kabar Ma Kyay Bu" (yang merujuk pada lagu protes dan berarti "kita tidak akan lupa sampai akhir dunia") dan "salam tiga jari" yang diilhami dari film "The Hunger Games", yang telah menjadi simbol perlawanan pada aksi-aksi protes di Myanmar dan negara tetangga Thailand.

Aksi tato bersama itu diorganisir oleh kelompok pemuda lokal dari etnis minoritas Intha ini mengundang warga untuk membuat tato protes untuk menggalang dana bagi gerakan pembangkangan sipil atau CDM. Diketahui CDM mengajak ribuan pekerja kerah putih dan biru, dari petugas medis, bankir dan pengacara hingga guru, insinyur dan pekerja pabrik, mogok dari pekerjaan mereka sebagai bentuk perlawanan terhadap kudeta militer 1 Februari.

Selanjutnya
Halaman
1 2