Round Up

Cerita Donasi Tubuh Gadis Myanmar Usai Tewas Tertembak saat Unjuk Rasa

Tim Detikcom - detikNews
Kamis, 04 Mar 2021 20:24 WIB
Demonstrators display three-fingered salute, a symbol of resistance at an intersection in Yangon, Myanmar Wednesday, Feb. 10, 2021. Protesters continued to gather Wednesday morning in Yangon breaching Myanmars new military rulers decrees that effectively banned peaceful public protests in the countrys two biggest cities. (AP Photo)
aksi demo antikudeta di Myanmar (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Kaum muda kembali menjadi korban kekerasan militer Myanmar. Seorang gadis berusia 19 tahun menjadi simbol perlawanan setelah tewas tertembak dalam unjuk rasa antikudeta di Myanmar. Dia menjadi sorotan tidak hanya karena kaos bertuliskan 'Everything will be OK' yang dipakainya, tapi juga catatan yang dibawanya yang meminta tubuhnya didonasikan jika dia tewas saat demo.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (4/3/2021), Angel, atau yang dikenal sebagai Kyal Sin, tewas tertembak di kepala dalam unjuk rasa di jalanan kota Mandalay, pada Rabu (3/3) waktu setempat. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melaporkan sedikitnya 38 orang tewas dalam sehari dalam berbagai unjuk rasa di Myanmar pada hari Rabu (3/3) itu.

Hari Rabu itu pun disebut sebagai hari paling mematikan di Myanmar setelah kudeta militer terjadi pada 1 Februari lalu.

Momen saat Angel ikut unjuk rasa antikudeta terjepret oleh kamera wartawan di lokasi. Kaos warna hitam bertuliskan 'Everything will be OK' yang dipakainya sempat viral di media sosial, dengan netizen memposting fotonya sebagai bentuk perlawanan terhadap polisi yang menindak demonstran dengan kekerasan.

Namun, Angel sendiri tampaknya menyadari situasinya tidak akan baik-baik saja baginya. Dia meninggalkan catatan berisi informasi soal golongan darah, nomor kontak yang bisa dihubungi dan permintaan untuk mendonasikan tubuhnya jika dia kehilangan nyawanya saat berunjuk rasa.

Myat Thu (23), yang bersama Angel saat unjuk rasa, menuturkan bahwa gadis 19 tahun yang seorang penari dan juara taekwondo itu merupakan salah satu dari ratusan demonstran yang beraksi secara damai di Mandalay untuk mengecam kudeta dan menyerukan pembebasan pemimpin de-facto Aung San Suu Kyi.

Dituturkan Myat bahwa dirinya mengenal Angel sebagai sosok perempuan muda yang berani. Dia melindungi demonstran lainnya, bahkan mengingatkan demonstran lainnya untuk menunduk saat polisi melepas tembakan. "Dia peduli dan melindungi yang lain bagai seorang kawan," sebut Myat.

Sebelum polisi menindak demonstran dengan kekerasan, Angel bisa terdengar berteriak dalam salah satu video. "Kami tidak akan lari," teriaknya. "Darah tidak seharusnya tertumpah," imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2