Pemerintahan Biden Diingatkan untuk Tidak Mem-bully Arab Saudi

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 01 Mar 2021 15:21 WIB
Lima faktor mengapa Amerika Serikat dan Barat takut dengan Arab Saudi
Ilustrasi (dok. BBC World)
Riyadh -

Sejumlah kolumnis Arab Saudi mengingatkan pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Joe Biden bahwa negara itu tidak berhak mem-bully Saudi, sekutu dekat AS. Para kolumnis itu juga mengingatkan AS bahwa kedaulatan Saudi adalah garis merah yang tidak bisa dilanggar.

Peringatan semacam ini menjadi contoh retorika terbaru dalam membela Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), setelah AS merilis laporan intelijen yang menyebut MBS terlibat dengan menyetujui pembunuhan wartawan Saudi, Jamal Khashoggi, tahun 2018 lalu.

Seperti dilansir Reuters, Senin (1/3/2021), MBS yang merupakan pemimpin de-facto Saudi telah menyangkal terlibat dalam pembunuhan Khashoggi di dalam Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada Oktober 2018 lalu. Saudi diketahui merupakan sekutu dekat AS di kawasan Timur Tengah.

Pekan lalu, otoritas AS mengumumkan serentetan sanksi untuk puluhan pejabat Saudi yang dianggap terlibat atau berperan dalam pembunuhan itu, namun 'mengampuni' MBS, yang terang-terangan disebut dalam laporan intelijen AS telah menyetujui operasi untuk 'menangkap atau membunuh' Khashgoggi.

"Amerika tidak memiliki hak untuk mem-bully sekutu kawasan yang strategis dan bukan menjadi kepentingannya untuk membiarkan perbedaan domestik merugikan kepentingan kawasan dan mitra-mitranya," cetus Khaled al-Malik dalam tulisan kolom pada surat kabar Saudi, Al Jazirah.

Dirilisnya laporan intelijen AS ke publik itu merupakan bagian dari upaya pemerintahan Biden untuk menyesuaikan kembali hubungan AS dengan Saudi, khususnya pada isu HAM dan penjualan senjata.

Laporan itu bukan barang baru dan ditahan oleh pemerintahan AS sebelumnya di bawah mantan Presiden Donald Trump, yang menjalin hubungan dekat dengan MBS.

Lebih lanjut, Malik dalam tulisannya mencetuskan bahwa Saudi, yang selama ini mengandalkan AS untuk sektor pertahanan termasuk saat Perang Teluk pertama dan setelah serangan besar-besaran pada infrastruktur minyak tahun 2019, bisa saja mencari pasokan senjata dari China dan Rusia.

"Tapi Kerajaan (Saudi) lebih memilih Amerika karena hubungan bersejarah dan strategis serta tujuan bersama kedua negara," tuturnya, merujuk pada tujuan bersama terkait Iran.

Simak juga video 'Biden Minta Arab Saudi Tanggung Jawab soal Pembunuhan Khashoggi':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2