Perpecahan Politik Perparah Dampak COVID-19 di Amerika Serikat

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 16:26 WIB
Dr. Anthony Fauci , director of the National Institute of Allergy and Infectious Diseases speaks during a meeting with US President Donald Trump and Louisiana Governor John Bel Edwards D-LA in the Oval Office of the White House in Washington, DC on April 29, 2020. (Photo by MANDEL NGAN / AFP)
Dr Anthony Fauci menilai perpecahan politik di AS turut berkontribusi pada tingginya jumlah kematian Corona (dok. AFP/MANDEL NGAN)
Washington DC -

Pakar penyakit menular terkemuka di Amerika Serikat (AS), Dr Anthony Fauci, menyebut perpecahan politik berkontribusi secara signifikan terhadap jumlah kematian 'mencengangkan' akibat virus Corona (COVID-19) di AS. Awal pekan ini, total kematian akibat Corona di AS tercatat menembus 500 ribu orang.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (23/2/2021), Fauci yang menjabat Direktur Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) ini menyebut bahwa pandemi Corona tiba di AS saat negara ini dilanda perpecahan politik, dengan pemakaian masker menjadi sikap politik bukannya langkah kesehatan yang diwajibkan.

"Bahkan di bawah situasi terbaik, ini akan menjadi masalah yang sangat serius," sebut Fauci dalam wawancara dengan Reuters, sembari menekankan bahwa meskipun ada kepatuhan tinggi pada protokol kesehatan, negara-negara seperti Jerman dan Inggris masih berjuang mengatasi virus ini.

"Namun, hal itu tidak menjelaskan bagaimana sebuah negara kaya dan canggih bisa memiliki presentasi kematian paling besar dan menjadi negara yang terdampak paling parah di dunia. Itu saya yakini tidak seharusnya terjadi," ucap Fauci yang kini menjadi salah satu penasihat top Presiden AS Joe Biden.

Disebutkan bahwa penduduk AS hanya mencapai 4 persen dari populasi global, namun negara ini mencatat nyaris 20 persen dari total kematian Corona secara global. Data penghitungan terbaru Johns Hopkins University (JHU) yang menjadi acuan global melaporkan total 28,1 juta kasus Corona, dengan 500.310 kematian -- angka tertinggi di dunia untuk total kasus dan total kematian Corona.

"Ini adalah hal terburuk yang terjadi di negara ini yang berkaitan dengan kesehatan bangsa ini dalam lebih dari 100 tahun terakhir," sebut Fauci.

Sepanjang tahun 2020, Fauci bertugas dalam Satuan Tugas Virus Corona Gedung Putih di bawah pemerintahan mantan Presiden Donald Trump. Tugas itu kerap membuat Fauci berselisih dengan Trump, yang diketahui berupaya mengecilkan tingkat keparahan Corona meski dia sendiri pernah terinfeksi. Trump juga menolak untuk mewajibkan pemakaian masker di AS.

Lihat Video "Amerika Serikat Catat 500 Ribu Kematian COVID-19":

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2