Pengacara Sebut Sidang Aung San Suu Kyi Jadi Penentu Demokrasi Myanmar

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 16:16 WIB
Buddhist religious and military flags are waved by supporters including Buddhist monks onboard a vehicle Monday, Feb. 1, 2021, in Yangon, Myanmar. Myanmars military has announced it will hold a new election at the end of a one-year state of emergency it declared Monday when it seized control of the country and reportedly detained leader Aung San Suu Kyi.
Aung San Suu Kyi (Foto: AP Photo)
Naypyitaw -

Pengacara Aung San Suu Kyi, Khin Maung Zaw, mengatakan persidangan pemimpin terpilih Myanmar itu akan membantu menentukan apakah rakyat Myanmar akan menjadi 'budak' militer kembali atau tidak.

Seperti dilansir AFP, Selasa (23/2/2021), Khin akan membela Suu Kyi atas dua dakwaan terkait impor walkie-talkie secara ilegal dan pelanggaran pembatasan COVID-19.

"Myanmar sekarang berada pada titik penting dalam sejarah," kata pria berusia 73 tahun itu kepada AFP melalui panggilan telepon dari Naypyitaw.

"Jika kita kalah, kita akan menjadi budak junta militer selama 40 atau 50 tahun. Kita harus memenangkan pertempuran ini," imbuhnya.

Sebagai pengacara HAM dan kini menjadi pengacara Suu Kyi, Khin mengakui kerap berpindah-pindah penginapan setiap malam guna menghindari penangkapan oleh militer Myanmar. Hingga kini, dirinya belum diberi izin untuk menemui Suu Kyi menjelang sidang pada 1 Maret mendatang.

"Jika saya tidak mendapatkan izin untuk bertemu dengannya untuk sidang, saya akan memberi tahu seluruh dunia bahwa persidangan itu tidak adil," katanya.

Dia juga telah meningkatkan tindakan pencegahan keselamatannya sendiri, karena "tekanan tidak langsung" yang dirasakan dari kerabatnya.

"Pada malam hari, saya harus menjauh dari rumah saya dan saya harus tinggal di rumah orang lain," katanya kepada AFP.

Simak Video: Pengacara Sebut Penahanan Aung San Suu Kyi hingga 17 Februari

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2