Meski Diancam Militer, Warga Myanmar Kembali Gelar Demo Besar-besaran

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Senin, 22 Feb 2021 15:49 WIB
Protesters hold images of ousted leader Aung San Suu Kyi during an anti-coup protest in Mandalay, Myanmar, Sunday, Feb. 21, 2021. Police in Myanmar shot dead a few anti-coup protesters and injured several others on Saturday, as security forces increased pressure on popular revolt against the military takeover. (AP Photo)
Puluhan ribu orang tolak kudeta Myanmar (Foto: AP Photo)
Yangon -

Ratusan ribu pengunjuk rasa anti-kudeta kembali turun ke jalan-jalan di Myanmar untuk menentang junta militer Myanmar pada hari Senin (22/2). Aksi demo besar-besaran ini dilakukan meski ada ancaman dari militer yang menyebut akan mengerahkan kekuatan mematikan untuk melawan tindakan 'anarki'.

Seperti dilansir AFP, Senin (22/2/2021), ancaman militer itu muncul setelah tiga demonstran ditembak mati pada akhir pekan, dan usai pemakaman seorang wanita muda yang meninggal karena tertembak saat aksi demo. Sejak kudeta 1 Februari lalu, demonstrasi besar-besaran terus terjadi untuk menuntut diakhirinya kudeta dan dibebaskannya pemimpin sipil Aung San Suu Kyi.

Kampanye pembangkangan sipil juga turut mempengaruhi berbagai sektor pemerintahan, bisnis hingga perbankan. Militer memberikan sinyal 'ancaman' pada warga yang masih akan turun untuk demonstrasi.

"Para pengunjuk rasa sekarang menghasut orang-orang, terutama remaja dan pemuda yang emosional, ke jalur konfrontasi di mana mereka akan menderita kehilangan nyawa," demikian pernyataan militer Myanmar yang disiarkan MRTV.

Pernyataan itu memperingatkan pengunjuk rasa agar tidak menghasut "kerusuhan dan anarki".

Para pengunjuk rasa tidak terpengaruh oleh peringatan itu, puluhan ribu orang berunjuk rasa di pusat kota terbesar Myanmar, Yangon. Ribuan orang dengan sepeda motor juga memadati jalan-jalan di Naypyidaw. Sementara, aksi protes besar lainnya juga terjadi di kota Myitkyina dan Dawei.

Pada hari ini, pasukan keamanan kian diperketat di Yangon, termasuk disiapkannya kendaraan polisi dan militer di jalan-jalan dan wilayah daerah kedutaan yang dibarikade.

Banyak bisnis di Yangon, dan di kota-kota besar lainnya ditutup, menyusul seruan mogok massal untuk mendukung gerakan pembangkangan sipil.

Para jenderal Myanmar menanggapi pemberontakan dengan secara bertahap meningkatkan penggunaan kekuatan, dan menahan sejumlah orang. Pasukan keamanan dan polisi dikerahkan dengan menggunakan peluru karet, gas air mata, meriam air, dan beberapa peluru tajam.

Simak video '3 Orang Tewas dalam Gelombang Pembangkangan Sipil di Myanmar':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2