Serangan Houthi Berisiko Picu Krisis Kemanusiaan Baru di Yaman

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Rabu, 17 Feb 2021 12:06 WIB
Operasi militer pimpinan Arab Saudi melawan pemberontak Houthi di Yaman telah terjadi lebih dari enam tahun terakhir.
Ilustrasi (Foto: Getty Images)

Hussein, yang melarikan diri dari Sanaa, mengatakan bahwa serangan milisi di kamp pengungsian telah meningkat dalam dua minggu terakhir. Ledakan besar yang terjadi di area itu memaksa banyak orang untuk melarikan diri.

"Orang-orang di sini kelaparan. Mereka hidup dalam kepanikan dan ketakutan, dan tidak punya pekerjaan," katanya.

Hussein mengatakan bahwa hanya tekanan dari organisasi internasional pada pemberontak yang dapat menyelamatkan kota dan negara dari bencana.

"Organisasi internasional dan kelompok hak asasi manusia harus secara serius dan kuat melakukan intervensi dengan menekan Houthi untuk menghentikan serangan mereka terhadap Marib," katanya.

Kementerian Pertahanan Yaman mengatakan bahwa pasukan tentara dan suku sekutu terlibat dalam pertempuran sengit dengan Houthi. Pesawat tempur koalisi Arab melakukan beberapa serangan, menargetkan bala bantuan militer Houthi menuju medan perang Marib.

Beberapa anggota parlemen Yaman telah meminta pemerintah untuk menarik diri dari Perjanjian Stockholm dan melanjutkan serangan militer di kota barat Hodeidah untuk mengurangi tekanan pemberontak terhadap pasukan pemerintah di Marib.

Mohsen Basurah, wakil ketua parlemen, mengatakan Houthi terus melakukan serangan terhadap Marib meskipun menderita banyak korban.

Dia mendesak presiden Yaman untuk meluncurkan mobilisasi umum dan memindahkan unit militer dari daerah di selatan Yaman ke Marib untuk menopang pasukan pemerintah.

"Sejarah tidak akan memaafkan kami jika Houthi memasuki Marib," kata Basurah di Twitter, Senin (15/2).

Halaman

(izt/nvc)