Ratusan Demonstran Antikudeta Berkumpul di Kedubes China di Myanmar

Ratusan Demonstran Antikudeta Berkumpul di Kedubes China di Myanmar

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Kamis, 11 Feb 2021 14:16 WIB
Demonstrators display three-fingered salute, a symbol of resistance at an intersection in Yangon, Myanmar Wednesday, Feb. 10, 2021. Protesters continued to gather Wednesday morning in Yangon breaching Myanmars new military rulers decrees that effectively banned peaceful public protests in the countrys two biggest cities. (AP Photo)
Demo Myanmar di Kedubes China (Foto: AP Photo)
Yangon -

Ratusan pengunjuk rasa antikudeta Myanmar berdemonstrasi di Kedutaan Besar (Kedubes) China di Yangon, Myanmar pada hari Kamis (11/2). Mereka menuduh Beijing mendukung junta militer meskipun klaim itu ditepis Beijing.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (11/2/2021) salah satu spanduk dalam bahasa China dan Inggris bertuliskan 'Dukung Myanmar, Jangan dukung diktator.'

Seorang pengunjuk rasa mengatakan kepada media Myanmar, "Menteri China tampaknya bertindak untuk mendukung kudeta militer," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedutaan Besar China belum menanggapi aksi pengunjuk rasa ini.

Pada Rabu malam (10/2), Kedutaan China memposting pernyataan di Facebook yang membantah laporan bahwa pesawat China datang membawa personel teknis. Mereka mengatakan satu-satunya penerbangan adalah penerbangan kargo reguler yang mengimpor dan mengekspor barang seperti makanan laut.

ADVERTISEMENT

Per Kamis (11/2), halaman resmi Kedubes China di Facebook tidak dapat diakses.

Ketika ditanya tentang rumor bahwa China mengirim peralatan dan ahli IT ke Myanmar, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin mengatakan dia belum mendengarnya.

"Ada informasi dan rumor palsu tentang China soal masalah yang berkaitan dengan Myanmar," katanya. Dia menegaskan bahwa China mengikuti situasi dengan cermat dan berharap semua pihak memperhatikan pembangunan dan stabilitas nasional.

China dicurigai menjalin hubungan dengan Myanmar untuk kepentingan ekonomi dan strategis. Sementara negara-negara Barat mengutuk keras kudeta militer pada 1 Februari lalu, China lebih berhati-hati - menekankan pentingnya stabilitas. Beberapa media pemerintah China bahkan menyebut pengambilalihan militer sebagai "perombakan kabinet".

Namun, China tetap menyetujui pernyataan Dewan Keamanan PBB yang menyerukan pembebasan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi dan tahanan lainnya, dan menyuarakan keprihatinan atas keadaan darurat di Myanmar selama setahun ke depan.

(izt/izt)
Hoegeng Awards 2025
Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini
Selengkapnya



Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Ajang penghargaan persembahan detikcom bersama Polri kepada sosok polisi teladan. Baca beragam kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini.
Hide Ads