Pertama Sejak Bertahun-tahun, Mesir Buka Perbatasan Gaza Tanpa Batas Waktu

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Rabu, 10 Feb 2021 14:16 WIB
Passengers sit next to their luggage as they wait to cross the border to the Egyptian side of Rafah crossing, in Rafah, Gaza Strip, Tuesday, Aug. 11, 2020. Egypt reopened Rafah Crossing for three days starting Tuesday for humanitarian cases in and out of the Gaza Strip, including medical patients and people who had Egyptian and international citizenship. The border was closed since March. (AP Photo/Adel Hana)
Mesir buka lagi perbatasan dengan jalur gaza (Foto: AP/Adel Hana)
Rafah -

Otoritas Mesir membuka perbatasannya dengan Jalur Gaza yang diblokade Israel. Pembukaan 'tanpa batas waktu' itu akan memungkinkan banyak orang bisa melintas ke dunia luar.

Seperti dilansir AFP, Rabu (10/2/2021) penduduk Gaza yang melintasi titik perbatasan Rafah pada hari Selasa (9/2) mengungkapkan perasaan lega atas pembukaan itu.

"Saya telah menunggu selama enam bulan sampai perbatasan dibuka," kata seorang mahasiswa, Ibrahim al-Shanti (19).

"Penutupan berulang telah menghabiskan satu semester studi saya. Saya berharap ini benar-benar dilakukan secara permanen," imbuhnya.

Kairo mengambil langkah tersebut saat menjadi tuan rumah pembicaraan antara Hamas, yang menguasai Jalur Gaza, dan Fatah, yang menjalankan Otoritas Palestina di Tepi Barat yang diduduki Israel.

Hamas, Fatah bersama dengan faksi-faksi Palestina lainnya, sedang mendiskusikan untuk mengadakan pemilihan parlemen dan presiden akhir tahun ini, yang pertama dalam 15 tahun terakhir.

Perlintasan Rafah telah ditutup dalam beberapa bulan terakhir untuk mengendalikan pandemi virus Corona, meskipun terkadang dibuka sebentar.

Sumber keamanan Mesir mengatakan kepada AFP bahwa "ini bukan pembukaan rutin atau normal. Ini adalah pertama kalinya dalam beberapa tahun perlintasan perbatasan Rafah dibuka tanpa batas waktu. Dulunya hanya dibuka tiga atau empat hari pada satu waktu."

Gaza adalah daerah padat berpenduduk sekitar dua juta orang, setengah dari mereka hidup di bawah garis kemiskinan, dan sering kekurangan air bersih, listrik, dan obat-obatan.

Selanjutnya
Halaman
1 2