Gletser Himalaya Tabrak Bendungan di India, 150 Orang Diperkirakan Tewas

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Minggu, 07 Feb 2021 17:09 WIB
Villagers row country boats through floodwaters in Morigaon district of Assam, India, Friday, June 26, 2020. Following incessant rainfall, the Brahmaputra river and its tributaries continued to rise flooding several districts in the state. (AP Photo/Anupam Nath)
Ilustrasi (Foto: AP/Anupam Nath)
New Delhi -

Sebanyak 150 orang diperkirakan tewas setelah gletser Himalaya pecah dan menabrak bendungan di India pada Minggu pagi waktu setempat (7/2). Kejadian ini menyebabkan banjir dan memaksa evakuasi desa-desa di hilir sungai.

"Jumlah sebenarnya belum dikonfirmasi, tapi 100 sampai 150 orang diperkirakan tewas," kata kepala negara bagian Uttarakhand, Om Prakash seperti dilansir Reuters Minggu (7/2/2021).

Seorang saksi mata mengatakan dia melihat batuan, dan air mengalir saat longsoran salju melewati lembah sungai.

"Itu datang sangat cepat, tidak ada waktu untuk memperingatkan siapa pun," kata Sanjay Singh Rana, yang tinggal di hulu desa Raini, mengatakan kepada Reuters melalui telepon. "Saya merasa akan terbawa,"

Para pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air dan para penduduk desa dikhawatirkan terbawa arus.

"Kami tidak tahu berapa banyak orang yang hilang," katanya.

India juga telah menempatkan banyak distrik utaranya dalam keadaan siaga.

Rekaman yang dibagikan oleh penduduk setempat menunjukkan air menyapu bagian-bagian bendungan serta apa pun yang menghalangi jalannya. Dalam video yang viral di media sosial, terlihat air terus mengalir melalui bendungan dan merendam peralatan konstruksi.

"Aliran Sungai Alaknanda di luar Nandprayag sudah kembali normal," kata Menteri Uttarakhand Trivendra Singh Rawat di Twitter.

"Ketinggian air sungai sekarang satu meter di atas normal tetapi alirannya menurun."

Uttarakhand di Himalaya dikenal rawan terjadi banjir bandang dan tanah longsor. Pada bulan Juni 2013, curah hujan yang tinggi menyebabkan banjir dahsyat sehingga merenggut hampir 6.000 nyawa.

Bencana itu dijuluki sebagai "Tsunami Himalaya" oleh media karena air yang mengalir di daerah pegunungan, menyebabkan lumpur dan bebatuan runtuh, mengubur rumah, menyapu bangunan, jalan dan jembatan.

Saksikan juga video 'India Bandingkan Aksi Protes Petani dengan Penyerbuan Capitol AS':

[Gambas:Video 20detik]



(izt/gbr)