Sejumlah Kapal Induk AS Gelar Latihan di Laut China Selatan

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Senin, 25 Jan 2021 17:23 WIB
The aircraft carriers USS Ronald Reagan (CVN 76), USS Theodore Roosevelt (CVN 71) and USS Nimitz (CVN 68) are underway, conducting operations, in international waters as part of a three-carrier strike force exercise in western Pacific, November 12, 2017.   Courtesy James Griffin/U.S. Navy/Handout via REUTERS  ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY.
ilustrasi kapal-kapal induk AS (Foto: Courtesy James Griffin/U.S. Navy/Handout via REUTERS)
Washington -

Sejumlah kapal induk Amerika Serikat berlayar di Laut Cihna Selatan untuk melakukan latihan "pelayaran bebas". Operasi ini merupakan yang pertama di wilayah itu sejak Joe Biden dilantik sebagai presiden AS.

Kelompok kapal induk AS yang dipimpin oleh kapal induk USS Theodore Roosevelt memasuki Laut China Selatan pada Sabtu (23/1) waktu setempat. Komando Indo-Pasifik AS mengatakan, pada hari yang sama Taiwan melaporkan beberapa jet tempur dan pesawat pembom China telah terbang ke zona pertahanan udaranya.

"Senang rasanya berada di Laut China Selatan lagi, melakukan operasi rutin, mempromosikan kebebasan laut, dan meyakinkan sekutu dan mitra," kata Laksamana Muda Doug Verissimo, komandan Kapal Induk AS, dilansir AFP, Senin (25/1/2021).

Beijing telah mengklaim hampir semua wilayah Laut China Selatan - meskipun Taiwan, Filipina, Brunei, Malaysia, dan Vietnam juga mengklaim sebagian adalah milik mereka.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyebut latihan rutin AS sebagai "unjuk kekuatan dan tidak kondusif bagi perdamaian dan stabilitas kawasan".

Laut China Selatan merupakan jalur perairan yang strategis dan juga diyakini memiliki simpanan minyak dan gas yang berharga.

Beijing bergerak agresif untuk mengubah terumbu karang menjadi pulau buatan yang mampu menampung pesawat militer. Tindakan itu membuat marah negara-negara yang juga berebut klaim di daerah tersebut.

Operasi AS itu dilakukan beberapa hari setelah Washington menyampaikan komitmennya kepada Taiwan.

Taiwan memisahkan diri dari China pada akhir perang saudara pada tahun 1949 dan berada di bawah ancaman invasi terus-menerus, di mana China bersumpah untuk merebut Taiwan suatu hari nanti.

Beijing menolak setiap kontak resmi dengan Taiwan dan mencoba untuk menjaga pulau itu terisolasi secara diplomatis.

Namun, AS tetap menjadi sekutu tidak resmi terpenting Taiwan, dan terikat oleh UU Kongres untuk menjual senjata ke Taiwan guna mempertahankan diri.

Presiden AS sebelumnya, Donald Trump menjalin hubungan yang lebih hangat dengan Taiwan sementara dia berselisih dengan China mengenai perdagangan. Pengganti Trump, Biden juga diperkirakan akan tetap bersikap keras terhadap Beijing.

(izt/ita)