Jerman Bakal Pakai Pengobatan Antibodi Seperti Trump

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Minggu, 24 Jan 2021 17:24 WIB
German Health Minister Jens Spahn attends the weekly cabinet meeting of the German government at the chancellery in Berlin, Wednesday, Oct. 21, 2020. Germanys Health Ministry said that Spahn tested positive on the corona virus Wednesday afternoon and is now in quarantine at home.(AP Photo/Markus Schreiber, Pool)
Menteri Kesehatan, Jens Spahn (Foto: AP Photo/Markus Schreiber, Pool)
Berlin -

Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn mengatakan negaranya akan menjadi negara Uni Eropa pertama yang mulai menggunakan pengobatan antibodi eksperimental, sama seperti yang diberikan pada Donald Trump untuk pulih dari COVID-19.

"Pemerintah telah membeli 200.000 dosis seharga 400 juta euro (Rp 6,8 triliun)," kata Spahn kepada surat kabar Bild am Sonntag, dengan bayaran 2.000 euro (Rp 34 juta) per dosis.

Dilansir dari AFP, Minggu (24/1/2021), obat yang disebut sebagai 'koktail antibodi monoklonal' akan didistribusikan ke rumah sakit universitas dalam beberapa minggu mendatang. Spahn menambahkan Jerman adalah 'negara pertama di Uni Eropa' yang menggunakannya dalam perang melawan pandemi corona.

Spahn tidak menyebutkan pabrikan yang akan memasok obat-obatan itu tetapi mengonfirmasi bahwa itu adalah obat yang sama yang diberikan kepada Donald Trump ketika terinfeksi corona pada Oktober lalu.

"Mereka bekerja seperti vaksinasi pasif. Pemberian antibodi ini pada tahap awal dapat membantu pasien berisiko tinggi terhindar dari infeksi yang lebih serius," kata Spahn.

Trump, yang sempat dirawat di rumah sakit karena virus corona, diberi terapi antibodi yang dikembangkan oleh perusahaan AS Regeneron, yang dikenal sebagai REGN-COV2, bahkan sebelum pengobatan tersebut mendapat persetujuan.

Dia kemudian mengatakan bahwa obat itu melakukan "pekerjaan yang luar biasa".

Perusahaan AS Eli Lilly telah mengembangkan terapi serupa.

Pengobatan baru ini adalah kombinasi atau "campuran" dari dua antibodi buatan laboratorium, yakni protein pelawan infeksi yang dikembangkan untuk mengikat bagian dari virus corona baru, yang digunakannya untuk menyerang sel manusia. Antibodi akan menempel pada berbagai bagian protein lonjakan virus dan mengubah strukturnya.

Keputusan Jerman untuk menyediakan antibodi itu datang ketika vaksin di Uni Eropa datang terlambat dari perkiraan. Pembuat vaksin Pfizer / BioNTech dan AstraZeneca mengatakan mereka akan mengirimkan dosis yang lebih sedikit ke Eropa daripada yang direncanakan karena masalah produksi.

Pemerintah Jerman tetap berharap dapat memberikan setiap warganya vaksin pada akhir Agustus mendatang.

Tonton juga 'Perlukah Penyintas COVID-19 Divaksinasi?':

[Gambas:Video 20detik]

(izt/gbr)