Presiden Venezuela Harap 'Hubungan Baru' dengan Pemerintah Joe Biden

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Minggu, 24 Jan 2021 14:31 WIB
FILE - In this March 12, 2020 file photo, Venezuelan President Nicolas Maduro speaks at the Miraflores presidential palace in Caracas, Venezuela. The Trump administration pushed back Tuesday, Sept. 2, 2020 on Maduro, saying he deserves no praise for releasing a few political prisoners ahead of a congressional election when many more remain unjustly jailed. (AP Photo/Matias Delacroix, File)
Presiden Venezuela, Nicolas Maduro (Foto: AP Photo/Matias Delacroix, File)
Caracas -

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro mengatakan pihaknya bersedia untuk 'membalik halaman' dengan AS di bawah Presiden Joe Biden. Maduro bersedia menyerukan 'jalan baru' setelah bertahun-tahun menjalani ketegangan dengan Donald Trump.

"Kami bersedia untuk berjalan di 'jalur baru' terkait hubungan kami dengan pemerintah Joe Biden berdasarkan rasa saling menghormati, dialog, komunikasi dan pemahaman," kata pemimpin sayap kiri itu kepada para pendukungnya dilansir AFP, Minggu (24/1/2021).

Pemerintahan Trump telah memberikan banyak sanksi ekonomi terhadap Venezuela, termasuk embargo minyak yang diberlakukan sejak 2019, dalam upaya untuk menggulingkan rezim sosialisMaduro, yang oleh AS disebut sebagai diktator.

Setelah bertahun-tahun dalam hubungan tegang, Caracas dan Washington memutuskan sepenuhnya hubungan diplomatik pada 23 Januari 2019, ketika pemerintah AS mengakui pemimpin oposisi Juan Guaido sebagai presiden sementara Venezuela.

Setelah Biden memenangkan pemilihan presiden AS pada November, Maduro memberi selamat kepada politisi kawakan itu dengan mengatakan Venezuela "siap untuk dialog dan pemahaman yang baik dengan rakyat dan pemerintah Amerika Serikat,". Maduro pun mengulangi sentimen itu lagi pada Desember.

Analis yakin pemerintahan Biden akan mengambil sikap yang lebih moderat terhadap Venezuela dan akan mendukung mediasi internasional untuk transisi menuju pemerintahan baru.

Menurut PBB, lebih dari lima juta warga Venezuela telah meninggalkan negara itu sejak 2015, melarikan diri dari kekacauan politik dan ekonomi.

(izt/gbr)