AS Desak China Perkuat Target Emisi Gas Rumah Kaca

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Minggu, 24 Jan 2021 11:09 WIB
U.S. Secretary of State John Kerry delivers remarks on Middle East peace at the Department of State in Washington December 28, 2016. REUTERS/James Lawler Duggan     TPX IMAGES OF THE DAY
John Kerry, Utusan AS Khusus Iklim era Biden (Foto: REUTERS/James Lawler Duggan)
Washington -

Pemerintah AS akan merilis lebih banyak kebijakan yang diperlukan untuk mengatasi perubahan iklim pada minggu depan. Penasihat iklim nasional Gedung Putih, Gina McCarthy, menyebut pada Sabtu (23/1), pihaknya juga mendesak China untuk memperkuat salah satu target emisi gas rumah kaca.

Dilansir Channel News Asia, Minggu (24/1/2021), penasihat iklim nasional Gedung Putih, Gina McCarthy, tidak mengatakan kebijakan apa yang akan dikeluarkan.

Sebuah memo yang dilihat oleh Reuters pada Kamis (21/1) menunjukkan Biden akan melakukan perintah eksekutif putaran kedua segera setelah 27 Januari. Perintah itu akan mencakup perintah omnibus untuk memerangi perubahan iklim di dalam negeri dan mengangkat masalah sebagai prioritas keamanan nasional.

Biden, yang baru menjabat pada 20 Januari, dengan cepat mengeluarkan perintah eksekutif seperti membatalkan pipa Keystone XL yang akan mengimpor minyak pasir tar dari Kanada dan bergabung kembali dengan perjanjian iklim Paris 2015.

Kedua langkah itu membalikkan kebijakan mantan Presiden Donald Trump. Selama empat tahun masa jabatannya, Trump membatalkan sekitar 100 peraturan tentang iklim dan lingkungan dimana ia menjalankan kebijakan "dominasi energi" untuk memaksimalkan output dan ekspor minyak, gas, dan batu bara.

John Kerry, utusan AS khusus iklim era Biden, mengatakan China, sebagai penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia, "tidak cukup baik". Pada bulan September, Presiden China Xi Jingping menetapkan tujuan agar negaranya menjadi karbon netral pada tahun 2060, 10 tahun setelah kerangka waktu 2050 yang disetujui oleh sebagian besar negara, sementara juga menjanjikan tujuan jangka pendek yang lebih ambisius untuk emisi.

Sebagai menteri luar negeri di bawah mantan Presiden Barack Obama pada 2015, Kerry membantu membawa China ke meja perundingan pada konferensi iklim PBB di Paris. "Sekarang, pemerintahan Biden mulai menerapkan tekanan diplomatik pada negara-negara untuk bekerja lebih keras di bidang iklim," kata Kerry.

Dalam pertemuan Kerry dan para menteri luar negeri di Eropa pada Jumat (22/1, Pihaknya memiliki harapan tinggi untuk pemerintahan Biden setelah kurangnya tindakan terhadap iklim di tahun-tahun Trump.

"'Ya, kami menyadari bahwa kami kembali dengan kerendahan hati,'" kata Kerry kepada para menteri, seraya menambahkan bahwa mayoritas negara bagian AS dan lebih dari 1.000 walikota terus bergerak maju pada iklim selama tahun-tahun Trump.

Kerry menyebut AS, sebagai penghasil emisi terbesar kedua di dunia, harus berbuat lebih daripada hanya mencapai target emisi karbon nol-bersih pada tahun 2050, mungkin melalui teknologi yang muncul seperti menangkap karbon dioksida langsung dari udara.

"Pemerintahan Biden, walikota dan pemimpin lokal lainnya harus meyakinkan Amerika bahwa menahan perubahan iklim "bisa menjadi transformasi ekonomi terbesar dalam sejarah global", kata Kerry.

(izt/gbr)