Tembak Mati 8 Rekannya,Tentara Rusia Divonis 24 Tahun Penjara

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Kamis, 21 Jan 2021 16:43 WIB
In this photo taken from a footage released on Sept. 22, 2020 by Russian Defense Ministry Press Service, Paratroopers attend a military exercises at the Ashuluk military base in Southern Russia. Russian Air Defense systems successfully repelled aerial strike during joined military drills in the south of Russia. The drills, expected to be held in Black Sea and Caspian sea waters, will take place until September 26th. Belarus, Armenia, China, Pakistan and Myanmar take part in the exercises.
Militer Rusia (Foto: Russian Defense Ministry Press Service via AP)
Moskow -

Pengadilan militer Rusia menjatuhkan vonis hukuman lebih dari 24 tahun penjara kepada seorang tentara Rusia. Vonis dijatuhkan atas kasus penembakan mati delapan prajurit, terkait perpeloncoan para tentara.

Melansir dari AFP, Kamis (21/1/2021), Ramil Shamsutdinov mengaku bersalah karena melakukan serangan senjata fatal pada tahun 2019. Ia mengeluhkan penindasan di militer dan budaya pelecehan yang digambarkan layaknya "neraka".

Pengadilan di kota Chita, Siberia pada Kamis (21/1) ini memutuskan bahwa Shamsutdinov harus menjalani hukumannya selama 24 tahun 6 bulan di "penjara koloni dengan keamanan tinggi".

Sebelumnya pada Desember 2020 lalu, hakim menyatakan tentara itu bersalah tapi pantas mendapatkan keringanan hukuman. Keringanan itu diberikan setelah jaksa menuntut hukuman 25 tahun penjara.

Komite Investigasi, yang menyelidiki kejahatan serius, sebelumnya menyimpulkan bahwa Shamsutdinov dalam keadaan sadar, sehat dan memahami konsekuensi berat atas tindakannya.

Dalam surat terbuka yang ditulis setelah penangkapannya pada 2019, Shamsutdinov mengatakan bahwa "dia tidak punya pilihan lain" dan meminta maaf kepada keluarga dan teman-teman korbannya.

"Saya tidak menyangka akan berakhir di 'neraka' seperti itu. Tidak ada tempat untuk lari atau mengeluh," tulisnya dalam surat yang dibagikan di media sosial.

Setelah penembakan, salah satu tentara yang bertugas di unit Shamsutdinov dijatuhi hukuman percobaan dua tahun karena penindasan.

Dalam serangan serupa pada November 2020, seorang tentara berusia 20 tahun menewaskan tiga prajurit di pangkalan militer dekat kota Voronezh, di mana para aktivis menyebut wajib militer menjadi sasaran perpeloncoan.

Rusia memberlakukan wajib militer untuk kaum pria berusia 18 - 27 tahun, tetapi banyak orang mencari celah untuk menghindari wajib militer.

Merespons keluhan itu, pihak berwenang bersikeras bahwa intimidasi yang melanda militer Rusia pada 1990-an telah diberantas. Namun, sejumlah kelompok HAM berpendapat bahwa perpeloncoan hingga kini masih menjadi masalah yang terus berlanjut.

(izt/ita)