Trump Perintahkan Pemeriksaan Risiko Keamanan Drone Buatan China

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 19 Jan 2021 14:39 WIB
Pria Singapura mengaku jadi mata-mata China di AS
Ilustrasi (dok. BBC World)
Washington DC -

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menandatangani perintah eksekutif yang menginstruksikan lembaga-lembaga AS untuk menaksir risiko keamanan apapun dari drone-drone buatan China yang tergabung dalam armada pemerintah AS dan memprioritaskan untuk mengganti drone tersebut.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (19/1/2021), perintah eksekutif yang ditandatangani pada Senin (18/1) waktu setempat itu mengarahkan seluruh lembaga AS untuk menguraikan risiko keamanan yang dimiliki armada drone pemerintah yang ada saat ini, yang terdiri atas drone buatan perusahaan China atau negara lainnya yang dianggap musuh asing, termasuk Rusia, Iran dan Korea Utara (Korut).

Dalam perintah eksekutifnya, Trump juga menginstruksikan lembaga-lembaga AS untuk merumuskan 'langkah-langkah potensial yang bisa diambil untuk mengurangi risiko ini, termasuk jika diperlukan, menghentikan seluruh penggunaan federal untuk (drone) tertutup dan melakukan penggantian (drone) secepatnya dari layanan federal'.

Bulan lalu, Departemen Perdagangan AS menambahkan perusahaan pembuat drone terbesar dunia, SZ DJI Technology asal China, ke dalam daftar hitam ekonomi pemerintah AS, bersama dengan puluhan perusahaan China lainnya.

Pada Januari 2020, Departemen Dalam Negeri AS meng-grounded armada 800 drone buatan China, namun menyatakan akan mengizinkan penggunaannya untuk situasi darurat. Menteri Dalam Negeri AS, David Bernhardt, pada Oktober lalu memerintahkan penghentian pembelian tambahan drone buatan China.

Sementara pada Mei 2019, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) memperingatkan perusahaan-perusahaan AS soal risiko data perusahaan dari drone buatan China.

Dalam sebuah pemberitahuan, DHS menyatakan bahwa para pejabat AS memiliki 'kekhawatiran kuat soal produk teknologi yang membawa data Amerika ke dalam wilayah negara otoriter yang mengizinkan badan intelijennya memiliki akses tak terbatas ke data itu atau menyalahgunakan akses itu'.

Bulan lalu, DJI menyatakan pihaknya kecewa atas keputusan Departemen Perdagangan AS, namun menekankan bahwa 'pelanggan di Amerika bisa terus membeli dan menggunakan produk DJI secara normal'.

(nvc/ita)