PM Israel Minta Pemukiman Yahudi di Tepi Barat Palestina Diperluas

Arief Ikhsanudin - detikNews
Selasa, 12 Jan 2021 04:27 WIB
Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu announces full diplomatic ties will be established with the United Arab Emirates, during a news conference on Thursday, Aug. 13, 2020 in Jerusalem.  In a nationally broadcast statement, Netanyahu said the “full and official peace” with the UAE would lead to cooperation in many spheres between the countries and a “wonderful future” for citizens of both countries. (Abir Sultan/Pool Photo via AP)
Foto: Benjamin Netanyahu (Abir Sultan/Pool Photo via A)
Yerusalem - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggerakkan pihak berwenang untuk menyetujui pembangunan 800 rumah baru bagi pemukiman Yahudi di Tepi Barat, Palestina yang saat ini diduduki. Perintah itu keluar beberapa hari sebelum Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar lengser.

Dilansir dari AFP, Selasa (12/1/2020), langkah itu dilakukan ketika terjadi perebutan politik internal meningkat menjelang pemilihan di Israel, yang keempat dalam dua tahun, menyusul runtuhnya koalisi antara PM sayap kanan Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan berhaluan Tengah Benny Gantz.

"Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah mengarahkan, bahwa rencana akan dikembangkan untuk pembangunan sekitar 800 unit di Yudea dan Samaria," kata sebuah pernyataan dari pemerintah.


Diketahui, semua pemukiman Yahudi di Tepi Barat dianggap ilegal oleh banyak komunitas internasional. Presiden terpilih AS Joe Biden, yang akan dilantik minggu depan, telah mengindikasikan bahwa pemerintahannya akan memulihkan kebijakan Washington pra-Trump, dan menentang perluasan pemukiman di Wilayah Palestina yang diduduki.

Pemilu Israel akan berlangsung pada 23 Maret. Menurut analis politik Israel, Netanyahu diperkirakan akan membuat serangkaian permainan untuk suara sayap kanan, termasuk dengan memperkuat kredensial pro-penyelesaiannya, sebelum pemungutan suara.

Serangkaian jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan bahwa perdana menteri menghadapi tantangan sayap kanan yang kuat dari kandidat pro-pemukim Gideon Saar, yang membelot dari partai Likud Netanyahu bulan lalu untuk mencalonkan diri melawannya. (aik/aik)