Kim Jong-Un Sebut Amerika Serikat Musuh Terbesar Korea Utara

Rita Uli Hutapea - detikNews
Sabtu, 09 Jan 2021 09:28 WIB
In this photo provided by the North Korean government, North Korean leader Kim Jong Un attends a ruling party congress in Pyongyang, North Korea Tuesday, Jan. 5, 2021. Kim opened its first Workers’ Party Congress in five years with an admission of policy failures and a vow to lay out new developmental goals, state media reported Wednesday. Independent journalists were not given access to cover the event depicted in this image distributed by the North Korean government. The content of this image is as provided and cannot be independently verified. Korean language watermark on image as provided by source reads: KCNA which is the abbreviation for Korean Central News Agency. (Korean Central News Agency/Korea News Service via AP)
Pemimpin Korut Kim Jong-Un (Foto: Korean Central News Agency/Korea News Service via AP)
Jakarta -

Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un mengatakan Amerika Serikat adalah "musuh terbesar" negara bersenjata nuklir itu.

Pernyataan tersebut disampaikan kurang dari dua minggu sebelum pelantikan Joe Biden sebagai presiden AS, dan setelah hubungan yang bergejolak antara Kim dan Presiden Donald Trump.

Kim dan Trump awalnya terlibat dalam perang kata-kata dan saling mengancam, sebelum hubungan diplomatik luar biasa yang menampilkan pertemuan puncak yang menarik perhatian dan pernyataan hangat Trump mengenai Kim.

Tetapi tidak ada kemajuan substansial yang dibuat, bahkan proses tersebut menemui jalan buntu setelah pertemuan di Hanoi, Vietnam gagal terkait pencabutan sanksi AS dan apa yang bersedia diserahkan oleh Korea Utara sebagai gantinya.

Pyongyang "harus fokus dan berkembang untuk menumbangkan AS, rintangan terbesar bagi revolusi kita dan musuh terbesar kita," ujar Kim pada kongres lima tahunan Partai Buruh Korea yang berkuasa, seperti dilaporkan kantor berita resmi KCNA dan dilansir AFP, Sabtu (9/1/2021).

"Tidak peduli siapa yang berkuasa, sifat sebenarnya dari kebijakannya terhadap Korea Utara tidak akan pernah berubah," katanya seperti dikutip, tanpa menyebut nama Biden.

Pyongyang telah mencurahkan sumber daya dalam jumlah besar untuk mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistiknya, yang menurut Kim perlu dipertahankan dari kemungkinan invasi AS.

Program-program tersebut telah membuat kemajuan pesat di bawah Kim, termasuk sejauh ini ledakan nuklirnya yang paling kuat hingga saat ini dan rudal yang mampu menjangkau seluruh AS, dengan sanksi-sanksi internasional yang semakin ketat.

Selanjutnya
Halaman
1 2