ADVERTISEMENT

Pakar Top AS Bantah Trump Soal Kematian Corona Dilebih-lebihkan

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 04 Jan 2021 16:36 WIB
President Donald Trump walks on the South Lawn of the White House in Washington, Sunday, Nov. 29, 2020, after stepping off Marine One. Trump is returning from Camp David. (AP Photo/Patrick Semansky)
Donald Trump (AP Photo/Patrick Semansky)
Washington DC -

Dua pakar kesehatan terkemuka Amerika Serikat (AS) membantah klaim Presiden Donald Trump yang menyebut data federal soal jumlah kasus dan kematian akibat virus Corona (COVID-19) dilebih-lebihkan. Kedua pakar kesehatan itu menegaskan bahwa data kasus dan kematian di AS merupakan angka sesungguhnya.

"Kematian-kematian itu adalah kematian yang nyata," sebut Direktur Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular AS, Anthony Fauci, kepada program acara 'This Week' pada televisi ABC News dan dilansir Reuters, Senin (4/1/2021).

Fauci menambahkan bahwa rumah-rumah sakit yang penuh sesak dengan pasien dan para tenaga medis yang penuh tekanan 'bukanlah palsu'. "Itu nyata," ujarnya.

Fauci bersama US Surgeon General, Jerome Adams, yang muncul dalam program CNN 'State of the Union', membela keakuratan data virus Corona yang dipublikasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) setelah Trump menyerang metode tabulasi yang digunakan lembaga itu.

"Jumlah kasus dan kematian akibat virus China jauh dilebih-lebihkan di Amerika Serikat karena metode penentuan yang konyol dari @CDCgov dibandingkan dengan negara-negara lainnya, yang kebanyakan melaporkannya, secara sengaja, sangat tidak akurat dan rendah," tuduh Trump via akun Twitter-nya.

Trump yang akan mengakhiri masa jabatannya pada 20 Januari mendatang, sering meremehkan bahaya virus Corona. Dia juga mengejek dan mengabaikan rekomendasi federal untuk mengendalikan penyebaran virus mematikan itu.

Menurut data CDC, lebih dari 20 juta orang terinfeksi virus Corona di AS dan nyaris 347 ribu orang meninggal dunia -- atau satu dibanding 950 warga AS.

"Dari perspektif kesehatan publik, saya tidak memiliki alasan untuk meragukan angka-angka tersebut dan saya pikir orang-orang harus sangat sadar bahwa ini bukan hanya soal kematian. Ini soal angka rawat inap, kapasitas," cetus Adams.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT