Iran Beri Rp 2,1 M untuk Penumpang Pesawat Ukraina Korban Salah Tembak

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Kamis, 31 Des 2020 12:40 WIB
In this photo released by Kharkiv Regional State Administration, wreckage of an AN-26 military plane seen after it crashed in the town of Chuguyiv close to Kharkiv, Ukraine, late Friday, Sept. 25, 2020. A Ukrainian military plane carrying students at an aviation school crashed and burst into flames while landing, killing more than twenty people. Two other people on board were seriously injured and four people were missing. (Kharkiv Regional State Administration via AP)
Foto: Pesawat Ukraina yang jatuh (Kharkiv Regional State Administration via AP)
Teheran -

Kabinet Iran mengalokasikan $ 150.000 atau setara dengan Rp 2,1 miliar untuk keluarga masing-masing dari 176 korban pesawat Ukraina. Pesawat itu menjadi korban salah tembak dan jatuh di wilayah udara Iran pada bulan Januari.

Dilansir Reuters, Kamis (31/12/2020) dengan menggambarkan penanganan Iran atas situasi sebagai "tidak dapat diterima", Ukraina mengatakan jumlah kompensasi harus dinegosiasikan. Ukraina juga meminta mereka yang bertanggung jawab untuk dibawa ke pengadilan.

Menurut laporan kantor berita IRNA, sebuah pernyataan pemerintah Iran mengatakan: "Kabinet menyetujui pemberian $ 150.000 atau setara dalam euro secepat mungkin kepada keluarga dan korban selamat dari setiap korban kecelakaan pesawat Ukraina."

Pengawal Revolusi Iran mengatakan mereka secara tidak sengaja menembak jatuh pesawat Ukraine International Airlines tak lama setelah lepas landas. Mereka salah mengira itu sebagai rudal ketika ketegangan dengan Amerika Serikat tinggi.

Kementerian luar negeri Ukraina mengatakan kompensasi harus ditetapkan melalui pembicaraan, dengan mempertimbangkan praktik internasional, setelah menetapkan penyebab tragedi tersebut dan membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan.

"Pihak Ukraina mengharapkan dari Iran sebuah draf laporan teknis tentang keadaan pesawat yang ditembak jatuh," kata juru bicara kementerian Oleh Nikolenko.

"Situasi ini sangat tidak dapat diterima, karena kita berbicara tentang nasib orang yang tidak bersalah," ungkap Nikolenko.